<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sutisna.com &#187; Keislaman</title>
	<atom:link href="http://www.sutisna.com/category/keislaman/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sutisna.com</link>
	<description>Sutisna.com</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Apr 2012 23:18:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Makna “Ilah” (Bagian ke-1)</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/makna-ilah-bagian-ke-1/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/makna-ilah-bagian-ke-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 01:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat Laa ilaha illallah tidak mungkin kita pahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu makna ilah yang berasal dari &#8216;aliha&#8217; yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/makna-ilah-bagian-ke-1/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Kalimat <em>Laa ilaha illallah</em> tidak mungkin kita pahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu makna <em>ilah</em> yang berasal dari &lsquo;<em>aliha</em>&rsquo; yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan memahaminya kita akan mengetahui motif-motif manusia meng<em>ilah</em>kan sesuatu.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>1. Aliha</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ada empat makna utama dari <em>aliha </em>yaitu <em>sakana ilahi, istijaara bihi, asy syauqu ilaihi </em>dan <em>wull&rsquo;a bihi</em>. Penjelasannya adalah sebagai berikut:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">a.<strong> </strong><strong><em>S</em></strong><strong><em>akana ilaihi</em></strong><strong> (m</strong><strong>ereka tenteram kepadanya</strong><strong>),</strong> yaitu ketika <em>ilah </em>tersebut diingat-ingat olehnya, ia merasa senang dan manakala mendengar namanya disebut atau dipuji orang ia merasa tenteram.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Penggunaan kata Ilah dengan makna ini tersirat di dalam Al-Qur&rsquo;an, di antaranya pada ayat berikut ini:</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا <span style="text-decoration: underline;">إِلَٰهًا</span> كَمَا لَهُمْ <span style="text-decoration: underline;">آلِهَةٌ</span> ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴿١٣٨﴾</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: &ldquo;Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)&rdquo;. Musa menjawab: &ldquo;Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)&rdquo;.&rdquo; </em>(QS. Al-A&rsquo;raaf: 138)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ayat di atas menggambarkan kisah Bani Israel yang bodoh karena menghendaki adanya <em>ilah</em> yang dapat menenteramkan hati mereka.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">b. <strong><em>I</em></strong><strong><em>stijaara bihi</em></strong><strong> (m</strong><strong>erasa dilindungi oleh</strong><strong>n</strong><strong>ya</strong><strong>)</strong>, karena <em>ilah </em>tersebut dianggap memiliki kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Penggunaan kata Ilah dengan makna ini bisa kita simak dalam Al-Qur&rsquo;an antara lain pada ayat berikut ini:</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ <span style="text-decoration: underline;">آلِهَةً</span> لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ﴿٧٤﴾</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.&rdquo; </em>(QS. Yaasiin: 74)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ayat di atas menggambarkan orang-orang musyrik yang mengambil pertolongan dari selain Allah, padahal berhala-berhala tersebut tidak dapat memberikan pertolongan (lihat QS. Al-A&rsquo;raaf ayat 197).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">c. <strong><em>A</em></strong><strong><em>ssyauqu ilaihi</em></strong><strong> (m</strong><strong>erasa selalu rindu kepadany</strong><strong>a)</strong>, ada keinginan selalu bertemu dengannya, baik terus-menerus atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ <span style="text-decoration: underline;">لَهَا</span> عَاكِفِينَ﴿٧١﴾</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Mereka menjawab: &ldquo;Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya&rdquo;.&rdquo; </em>(QS. Asy-Syu&rsquo;araa&rsquo;: 71)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ayat di atas menggambarkan para penyembah berhala yang sangat tekun melakukan pengabdian kepada berhala karena selalu rindu kepadanya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">d. <strong><em>W</em></strong><strong><em>ull&rsquo;a bihi</em></strong><strong> (m</strong><strong>erasa cinta dan cenderung kepadany</strong><strong>a)</strong>. Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya mencintai <em>ilah </em>tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan bahwa pujaannya memiliki kelayakan untuk dicintai sepenuh hati.</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ <span style="text-decoration: underline;">أَندَادًا</span> يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah&hellip;&rdquo; </em>(QS. Al-Baqarah: 165)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ayat di atas menggambarkan adanya sebagian manusia (orang-orang musyrik) yang menyembah tandingan-tandingan (أَندَادًا) selain Allah dan mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, karena mereka sangat cenderung atau dikuasai olehnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>2. Abadahu</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Selanjutnya, <em>Aliha</em> bermakna <em>abaduhu </em>yang berarti mengabdi/menyembahnya. Karena empat perasaan di atas demikian mendalam dalam hatinya, maka dia rela dengan penuh kesadaran untuk menghambakan diri kepada <em>ilah </em>(sembahan) tersebut. Hal ini sebagaimana perkataan orang Arab di mana <em>aliha</em> bermakna <em>abadahu</em>, seperti dalam kalimat: &ldquo;<em>aliha rajulu ya-lahu</em>&rdquo; yang artinya &ldquo;<em>lelaki itu menghambakan diri pada ilahnya</em>&rdquo;.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dalam hal ini ada tiga sikap yang mereka berikan terhadap ilahnya yaitu <em>kamalul mahabah</em>, <em>kamalut tadzalul</em>, dan <em>kamalul khudu&rsquo;</em>.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>a. </strong><strong><em>K</em></strong><strong><em>amalul mahabbah</em></strong><strong> (d</strong><strong>ia amat sangat mencintainya</strong><strong>)</strong>, sehingga semua akibat cinta siap dilaksanakannya. Maka dia pun siap berkorban memberi loyalitas, taat dan patuh dan sebagainya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Orang kafir yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai <em>ilah</em>nya, demikian senangnya apabila mendengar nama kecintaannya, serta tidak suka apabila nama Allah disebut.</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ﴿٤٥﴾</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.&rdquo; </em>(QS. Az-Zumar: 45)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sedangkan kecintaan seseorang terhadap sesuatu tanpa dasar yang benar, dapat membentuk sebuah penghambaan tanpa disadarinya. Rasulullah SAW bersabda,</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Celakalah hamba dinar (uang emas), celakalah hamba dirham (uang perak), celakalah hamba pakaian (mode). Kalau diberi maka ia ridha, sedangkan apabila tidak diberi maka ia akan kesal.&rdquo;</em> (HR. Bukhari)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Hal ini disebabkan kecintaan yang amat sangat terhadap barang-barang tersebut.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>b. </strong><strong><em>K</em></strong><strong><em>amalut tadzulul</em></strong><strong> (d</strong><strong>ia amat sangat merendahkan diri di hadapan <em>ilah</em>nya</strong><strong>)</strong>. Sehingga menganggap dirinya sendiri tidak berharga, sedia bersikap rendah serendah-rendahnya untuk pujaannya itu.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dalam hal ini, orang-orang kafir sangat menghormati berhala-berhalanya sembahannya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT,</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴿٢٣﴾</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Dan mereka berkata: &ldquo;Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa&rsquo;, yaghuts, ya&rsquo;uq dan nasr&rdquo;.&rdquo; </em>(QS. Nuuh: 23)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dalam catatan sejarah, orang-orang musyrik marah karena berhala-berhalanya dipermalukan oleh Nabi Ibrahim AS, sehingga mereka menghukum Nabiyullah untuk membela berhala-berhala. Reaksi kemarahan tersebut menandakan bahwa mereka begitu rendah diri dan hormat terhadap berhala-berhalanya. Peristiwa ini terekam dalam Al-Qur&rsquo;an:</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">قَالُوا مَن فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ﴿٥٩﴾</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Mereka berkata: &ldquo;Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zhalim&rdquo;.&rdquo; </em>(QS. Al-Anbiyaa&rsquo;: 59)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>c. </strong><strong><em>K</em></strong><strong><em>amalul khudu&rsquo;</em></strong><strong> (d</strong><strong>ia amat sangat tunduk, patuh</strong><strong>)</strong>, sehingga akan selalu mendengar dan taat tanpa reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber dari sang ilah.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dalam hal ini, orang-orang kafir pada hakikatnya mengabdi kepada syaithan yang telah memperdaya mereka. Hal ini tersirat dalam perintah Allah SWT,</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? &hellip;&rdquo; </em>(QS. Yaasiin: 60)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Begitu mengabdinya mereka kepada syaithan, mereka sangat patuh sehingga bersedia membunuh anak-anaknya untuk mengikuti program ilah-ilah sembahannya.</span></span></p>
<p class="arabic" style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya.&rdquo;</em> (QS. Al-An&rsquo;aam: 137)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ndash; Bersambung</em></span></span></p>
<div style="overflow: hidden; color: rgb(0, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255); text-decoration: none; border: medium none; text-align: justify;">
	<span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sumber: <a href="http://www.dakwatuna.com/2011/12/17127/makna-ilah-bagian-ke-1/#ixzz1ftykvQoS" style="color: #003399;">http://www.dakwatuna.com/2011/12/17127/makna-ilah-bagian-ke-1/#ixzz1ftykvQoS</a></span></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/makna-ilah-bagian-ke-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Malaikat</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-malaikat/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 10:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Rukun Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=597</guid>
		<description><![CDATA[Iman Kepada Malaikat Siapakah Malaikat itu? Malaikat adalah makhluk (ciptaan Allah swt.) cahaya, tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak berjenis kelamin. Mereka adalah<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-malaikat/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Iman Kepada Malaikat</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Siapakah Malaikat itu? Malaikat adalah makhluk (ciptaan Allah swt.) cahaya, tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak berjenis kelamin. Mereka adalah alam lain yang berdiri sendiri dan berbeda fisik dan jasadnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Allah swt telah menciptakan malaikat dari cahaya. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.,</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><span dir="RTL">خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ (رواه مسلم</span>).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Malaikat telah diciptakan dari cahaya.&rdquo; (Muslim).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Lantas apa tugas (pekerjaan) mereka? Mereka mengurus alam semesta ini sesuai <em>iradah</em> dan <em>masyi&rsquo;ah</em> (kehendak) Allah swt. Dia mendayagunakan malaikat untuk melaksanakan perintah-Nya, dan mereka, para malaikat, tidak akan melakukan sesuatu kecuali dengan perintah Allah swt. Allah swt. mengatakan dengan gamblang tentang hal ini.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dan mereka berkata, &ldquo;Tuhan yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak.&rdquo; Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. (Al-Anbiya: 26-27)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Diantara amal mereka adalah bertasbih dan tunduk secara total dan sempurna kepada Allah swt., turun membawa wahyu, dan mencatat semua amal. Allah swt. menerangkan tentang hal ini kepada kita sebagai mana ayat berikut.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Infithar: 10-12)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ada juga malaikat yang bertugas mewafatkan dan mencabut nyawa.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Apakah beriman kepada malaikat adalah kewajiban bagi kita? Jawabnya tentu saja ya. Allah swt. telah mengabarkan kepada kita tentang mereka dalam Kitab-Nya. Jadi, iman kepada malaikat itu wajib dan menjadi salah satu rukun iman. Perhatikan firman Allah swt. berikut ini.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), &ldquo;Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya&rdquo;, dan mereka mengatakan, &ldquo;Kami dengar dan kami taat.&rdquo; (Mereka berdoa), &ldquo;Ampunilah kami, Ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.&rdquo; (Al-Baqarah: 285)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ar-Razi dalam <em>At-Tafsiirul Al-Kabiir</em> juz 2 halaman 160 menulis tentang definisi malaikat menurut Islam, nasrani, dan penyembah berhala. Menurut mayoritas ulama Islam, malaikat adalah makhluk halus yang diciptakan dari cahaya dan mampu berubah-ubah bentuk yang berbeda. Sedangkan menurut sekte nasrani, malaikat adalah roh yang telah terpisah dari tubuhnya, dapat berbicara, dan memiliki sifat bersih dan baik. Lain lagi menurut golongan penyembah berhala. Mereka berpendapat bahwa malaikat adalah bintang yang bertugas memberi kebahagiaan atau kesengsaraan. Malaikat pemberi kebahagiaan disebut malaikat rahmah, dan malaikat yang memberi kesengsaraan disebut malaikat azab. Dengan demikian bintang, menurut mereka, adalah makhluk hidup yang dapat berbicara.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Dalil Iman Kepada Malaikat</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sebagaimana telah kita pahami bahwa jalan menuju iman kepada malaikat adalah melalui periwayatan yang shahih dari dalil-dalil Al-Qur&rsquo;an dan sunnah. Akal dalam hal ini tidak memiliki peran, kecuali tunduk kepada apa yang telah dijelaskan oleh wahyu, sedangkan wahyu itu sendiri tidak bertentangan dengan akal.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Hukum Beriman Kepada Malaikat</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Keberadaan malaikat diperkuat dengan dalil Al-Qur&rsquo;an, Sunnah dan ijma, maka iman kepada malaikat hukumnya wajib. Dan barangsiapa yang mengingkari keberadaan mereka, maka ia telah kafir.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Berikut ini dalil Al-Qur&rsquo;an dan Hadits bertalian dengan iman kepada malaikat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), &ldquo;Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya&rdquo;, dan mereka mengatakan, &ldquo;Kami dengar dan kami taat.&rdquo; (Mereka berdoa), &ldquo;Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.&rdquo;</em> (Al-Baqarah: 285)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Di Al-Qur&rsquo;an juga terdapat surat yang diberi nama surat Malaikat, yaitu surat Faathir.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sedangkan di antara hadits yang paling populer berkaitan dengan tema ini adalah Hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a. (teks lengkapnya bisa dilihat di hadits kedua Arbain Nawani).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Rasulullah saw. pada suatu hari bersama para sahabat, lalu seorang laki-laki datang padanya kemudian berkata; &ldquo;Ya Rasulullah, apakah iman itu?&rdquo; Rasul menjawab, &ldquo;Iman adalah kamu beriman pada Allah, malaikat, kitabNya, bertemu denganNya, para Rasul, dan beriman kepada hari kebangkitan</em>.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Jadi, jelaslah bahwa iman kepada malaikat adalah salah satu rukun akidah Islam. Tidak akan diterima iman seorang muslim, tanpa mengimani rukun ini. Jika masih terlintas di pikiran Anda sebuah pertanyaan, kenapa iman kepada malaikat menjadi salah satu rukun iman? Pertanyaan Anda itu dijawab oleh Imam Muhammad Abduh dalam <em>Tafsir Al-Manar</em> juz 2 halaman 110, &ldquo;Bahwa iman kepada malaikat adalah pokok iman kepada wahyu. Karena, malaikat penyampai wahyu adalah roh yang berakal yang memiliki ilmu yang luas dengan izin Allah. Malaikat menyampaikan wahyu kepada roh Nabi sebagai pokok agama. Karenanya, penyebutan iman kepada malaikat didahulukan atas penyebutan iman kepada kitab dan para nabi. Sebab, merekalah yang datang kepada para nabi membawa kitab. Jadi, mengingkari malaikat berarti mengingkari wahyu, kenabian, dan ruh. Dan itu berarti mengingkari hari akhir. Orang yang mengingkari hari akhir tujuan utama hidupnya adalah kenikmatan dunia, syahwat, dan segala tuntutannya. Hal ini adalah sumber kesengsaraan di dunia sebelum di akhirat.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Sifat-sifat Malaikat</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Kita telah paham bahwa pengetahuan kita tentang malaikat hanyalah berdasar pada dalil wahyu. Maka, wahyu juga yang menjelaskan kepada kita dari apa malaikat diciptakan dan seperti apa tabiat mereka. Allah swt. telah menciptakan malaikat dari cahaya berbeda dengan Adam diciptakan dari tanah, dan jin diciptakan dari api.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, &ldquo;Malaikat diciptkan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diceritakan pada kamu (tanah).&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Para ulama mengatakan bahwa para malaikat adalah <em>jawahir basithah </em>yang diberi akal, tidak memerlukan tempat, ada yang berhubungan dengan benda konkret seperti otak, ada pula yang berhubungan dengan yang abstrak seperti jiwa. Malaikat memiliki kemampuan logika akal yang tidak sempurna. Mereka tidak terhalang dari cahaya Allah. Dan tidak dilarang berada bersamanya pada suatu waktu, pada suatu keadaan dengan tidur, lalai atau syahwat. Bahkan mereka menikmati dengan apa yang mereka saksikan. Ketaatan mereka adalah karakter dan kemaksiatan mereka adalah tugas. Ini berbeda dengan manusia yang ketaatannya adalah tugas dan mengikuti hawa nafsu adalah karakter (lihat <em>Al-Kulliyat</em> karya Abul Baqa&rsquo;, halaman 854, penerbit Ar-Risalaat).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Simak beberapa firman Allah swt. berikut ini:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). </em>(An-Nahl: 50)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. </em>(Al-Anbiya: 27)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. </em>(At-Tahriim: 6)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Kedudukan dan Keutamaan Malaikat</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Para ulama berbeda pendapat dalam hal menjadikan manusia lebih utama daripada malaikat. Ada yang berpendapat bahwa para rasul dari golongan manusia lebih utama dari para rasul dari golongan malaikat dan para wali dari golongan manusia lebih utama dari para wali golongan malaikat. Sementara yang lain berpendapat bahwa malaikat lebih utama dari manusia selain para rasul.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Malaikat Bukan Lelaki dan Bukan Perempuan</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Orang-orang musyrikin Arab Jahiliyah beranggapan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Mereka telah melakukan kebodohan besar ketika mengatakan bahwa Allah memiliki anak dan anak-anaknya adalah para wanita (malaikat). Sementara di sisi lain mereka tidak senang dengan anak-anak perempuan. Lihat gambaran ini di surat An-Nahl ayat 58.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Tentang kebohongan mereka, Allah menjelaskan di dalam surat Az-Zukhruf ayat 19.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Perhatikan juga surat Al-Isra ayat 40 di bawah ini.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bukan sesuatu yang aneh keyakinan yang salah ini masih mempengaruhi akal dan hati banyak orang. Contoh yang paling jelas adalah menyerupakan malaikat dengan perempuan-perempuan berkostum putih dan membuat patung atau gambar malaikat pada bentuk anak-anak perempuan dan wanita-wanita cantik yang memiliki sayap. Gambar-gambar itu dijual di pasar-pasar dalam bentuk ucapan selamat pada hari bahagia dan hari raya. Bahkan ada yang membuat boneka malaikat dengan wujud anak perempuan atau wanita cantik. Tentu hal ini adalah kekufuran yang jelas. Barangsiapa yang meyakini bahwa suara perempuan adalah suara malaikat atau para perempuan merupakan potret malaikat rahmah, ia adalah kafir. Begitu pendapat Al-Bani dalam buku <em>Arkanul Iman</em>.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ada juga ulama berpendapat tidak sekeras Al-Bani. Mereka berpendapat, menggambar bentuk malaikat adalah bid&rsquo;ah yang sangat berbahaya dan dapat mengeluarkan seorang muslim dari iman. Namun, dalam percakapan sehari-hari, orang banyak kadang mengasosiasikan sesuatu yang sempurna dalam penglihatan dengan malaikat. Misalnya para wanita bangsawan yang terkesima dengan ketampanan Nabi Yusuf. Mereka mengasosiasikan Nabi Yusuf dengan malaikat (lihat surat Yusuf: 31). Tapi, mereka tidak menyakini bahwa Nabi Yusuf itu malaikat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Malaikat Tidak Makan, Tidak Minum</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dalil bahwa malaikat tidak makan dan tidak minum adalah Al-Qur&rsquo;an yang menceritakan tentang para tamu Nabi Ibrahim dari golongan malaikat yang diutus oleh Allah untuk menghancurkan perkampungan kaum Luth. Lihat surat Adz-Dzaariyaat ayat 24-28.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>24. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>25. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, &ldquo;Salaamun.&rdquo; Ibrahim menjawab, &ldquo;Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.&rdquo;</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>26. Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>27. Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata, &ldquo;Silakan Anda makan.&rdquo;</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>28. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, &ldquo;Janganlah kamu takut.&rdquo; Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Malaikat Tidak Dapat Dilihat Dalam Bentuk Aslinya</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Pada kisah tamu Ibrahim di atas, malaikat dapat dilihat di saat berbentuk pada wujud selain aslinya. Sedangkan pendapat yang shahih bahwa malaikat tidak dapat dilihat oleh manusia biasa, dalilnya adalah firman Allah swt. di surat Furqan ayat 21-22.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>21. Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami, &ldquo;Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?&rdquo; Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman.&rdquo;</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>22. Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata, &ldquo;Hijraan mahjuuraa&rdquo;.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ibnu Hazm di <em>Al-Fashl</em> juz 4 halaman 57, mengomentari ayat ini dengan kalimat, &ldquo;Allah telah menjadikan permintaan manusia akan diturunkannya malaikat sebagai suatu masalah besar, yang dianggap sebagai kesombongan dan melampaui batas; dan Allah menjelaskan kepada kita bahwa kita sebagai manusia tidak akan pernah dapat melihat malaikat sampai hari kiamat.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Jika manusia biasa tidak dapat melihat malaikat, tapi ada kekhususan bagi Rasulullah saw. Rasulullah saw sebagai seorang nabi bisa melihat malaikat jibril dalam bentuk aslinya ketika di malam Isra Mi&rsquo;raj. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari Masruq, dia berkata: aku pernah bersama A&rsquo;isyah, beliau berkata, Bukankah Allah telah berfirman di surat At-Takwiir ayat 23,<em> Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang. </em>Dan surat An-Najm ayat 13, <em>Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. </em>Lalu A&rsquo;isyah berkata, &ldquo;Aku orang pertama dari umat ini yang bertanya kepada Rasulullah tentang ayat di atas, maka Rasulullah saw. menjawab, &lsquo;Sesungguhnya dia adalah malaikat Jibril.&rsquo; Rasul tidak melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali dua kali. Rasul melihatnya pertama kali di saat Malaikat Jibril turun ke bumi dan sayapnya menutupi antara langit dan bumi.&rdquo; (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 4 halaman 251-252).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Walaupun kita, manusia, tidak dapat melihat malaikat, namun ada sebagian makhluk yang diberi kelebihan khusus sehingga dapat melihat malaikat. Bukhari dan Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, &ldquo;Jika kamu mendengar suara ayam jago, maka mintalah kepada Allah sebagian dari karunianya, karena ayam jago itu dapat melihat malaikat; dan bila kamu mendengar suara ringkik keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari setan karena ia melihat setan.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sebagian orang menganggap hadits seperti ini aneh, bagaimana mungkin burung-burung dan binatang dapat menyaksikan apa-apa yang tidak dapat kita saksikan. Jawabnya sederhana. Benda mati saja dapat memperlihatkan kepada kita sesuatu yang kita tidak dapat melihatnya dalam kondisi biasa. Contohnya televisi. Benda ini dapat memperlihatkan gambar-gambar yang entah di mana adanya ke hadapan kita yang sedang duduk di dalam kamar. Padahal kita tahu isi televisi itu adalah rangkaian komponen elektronik saja.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Malaikat Mampu Berubah-ubah Bentuk</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dalam kisah tamu Nabi Ibrahim, para malaikat datang dengan menjelma sebagai laki-laki dewasa. Karena itu, Nabi Ibrahim langsung menjamu mereka dengan makanan. Contoh lain adalah ketika malaikat datang kepada Maryam ibu Nabi Isa a.s. Perhatikan surat Maryam ayat 16-17 ini.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>16. Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>17. Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh Kami (Jibril a.s.) kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Malaikat Jibril datang menjumpai Rasulullah dalam bentuk manusia yang berbeda-beda bentuknya. Kadangkala menyerupai seorang shahabat yang bernama Dahyah bin Khalifah Al-Kalbi karena Dahyah seorang pemuda tampan dan memiliki postur yang ideal. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan di dalam shahihnya dari Umar bin Khaththab, ia berkata, &ldquo;Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambut yang sangat hitam, lalu menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Rasulullah dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha Rasul, dan ia berkata, &lsquo;Wahai Muhamad, beritahu saya tentang Islam.&rdquo; Kemudian bertanya lagi tentang iman, ihsan, dan hari kiamat. Kemuian meninggalkan tempat itu. Lalu Rasulullah saw. bertanya kepada Umar, &ldquo;Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa yang bertanya tadi?&rdquo; Umar menjawab, &ldquo;Allah dan RasulNya lebih tahu.&rdquo; Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan, &ldquo;Dia adalah Malaikat Jibril yang telah datang kepadamu mengajarkan kami tentang agamamu.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Malaikat Memiliki Kemampuan Yang Luar Biasa</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Malaikat memiliki kemampuan yang luar biasa yang tidak dapat dibayangkan. Misalnya, 8 malaikat pemikul Arsy.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung &lsquo;Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.&rdquo; (Al-Haaqqah: 17)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Jika kursi Allah swt. luasnya seluas tujuh lapis langit dan bumi, coba bayangkan sebesar apa &lsquo;Arsy dan bayangkan betapa dahsyatnya kekuatan yang dimiliki para malaikat pemikul &lsquo;Arsy. Coba bayangkan bagaimana kekuatan malaikat peniup sangkakala dimana saat sangkakala ditiupkan seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi mati seketika.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).&rdquo; (Az-Zumar: 68)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bisakah kita bayangkan apa yang dilakukan malaikat terhadap kaum Nabi Luth seperti yang digambarkan Allah swt. dalam firman-Nya di surat Hud ayat 82 ini?</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan, red.), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Itulah gambaran yang menakutkan tentang kekuatan malaikat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Adapun kecepatan malaikat lebih cepat dari apa yang dibayangkan manusia. Allah berfirman di dalam surat Al-Ma&rsquo;arij ayat 4.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Cukup untuk diketahui bahwa malaikat Jibril memi&rsquo;rajkan Rasulullah saw. ke langit tertinggi kemudian kembali lagi ke bumi, hanya dalam satu malam, bahkan sebagian dari malam. Kita tahu bahwa langit yang paling dekat ke bumi memerlukan jutaan tahun kecepatan cahaya. Artinya, kita perlu hidup jutaan tahun untuk sampai ke sana bila kita jalan dengan kecepatan cahaya yang 300 km per detik. Pertanyaannya, siapa yang dapat melakukannya? Dari mana kita mendapat umur yang panjang untuk perjalanan itu?</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Malaikat Diciptakan Untuk Taat Dan Bertasbih</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ketaatan dan ibadah bagi malaikat adalah sifat asli mereka (<em>jibillah</em>) sebagaimana Allah mensifati mereka di surat At-Tahrim ayat 6.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.&rdquo; (Al-Anbiya: 27) ayat</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.&rdquo; (Al-Anbiya: 20)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.&rdquo; (Al-Anbiya: 19)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Para ulama berbeda pendapat tentang cara bertasbihnya malaikat. Ibnu Mas&rsquo;ud dan Ibnu Abbas berkata, tasbih mereka adalah shalat. Ini berdasarkan firman Allah</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><span dir="RTL">فلولا انه كان من المسبحين </span>&ldquo;seandainya ia bukan orang yang selalu bertasbih&rdquo;, yang dimaksud dengan bertasbih di sini adalah shalat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Qotadah berkata, tasbih malaikat adalah <span dir="RTL">سبحان الله </span>sebagaimana dipahami dari bahasa. Al-Qurthubi mendukung pendapat ini. Dalilnya adalah hadits riwayat Abu Dzar r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya, &ldquo;Ucapan apa yang paling afdlal?&rdquo; Rasulullah saw. menjawab, &ldquo;Ucapan yang paling afdlal adalah kata-kata yang telah dipilihkan oleh Allah untuk malaikat, yaitu <span dir="RTL">سبحان الله وبحمده </span>&rdquo; (Muslim)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dan Abdurrahman bin Qarth bahwa Rasulullah saw. pada malam Isra&rsquo; dan Mi&rsquo;raj mendengar suara tasbih di langit yang paling atas:&ldquo;<span dir="RTL">سبحان العلي الأعلى سبحانه وتعالى </span>&ldquo;. (Al-Baihaqi, <em>Tafsir Al-Qurthubi</em> juz 1/267).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dan shalatnya malaikat adalah berdiri dan sujud. Dari Hakim bin Hizam, ia berkata, ketika Rasulullah saw. bersama para sahabat, beliau bersabda, &ldquo;Apakah kalian mendengar apa yang saya dengar?&rdquo; Mereka menjawab, &ldquo;Kami tidak mendengar sesuatu.&rdquo; Rasulullah saw. berkata, &ldquo;Sesungguhnya aku mendengar hentakan langit. Tidak ada satu jengkal pun bagian langit yang terhentak melainkan di atasnya malaikat sedaang sujud atau sedang berdiri.&rdquo; (At-Tabrani, Mu&rsquo;jam Al-Kabir, Al-Asyqar &lsquo;Alamul Malaikah Al-Abrar, halaman.31,1989)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Keadaan malaikat diciptakan untuk beribadah sehingga sebagian ulama meyakini bahwa malaikat bukan makhluk mukallaf. Yang sahih bahwa taklif mereka tidak sama dengan taklif kita. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa mereka bukan makhluk mukallaf adalah pendapat yang salah karena mereka diperintahkan untuk beribadah dan taat. Allah swt. berfirman:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).&rdquo; (An-Nahl: 50)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Khauf adalah di antara tingkatan ubudiyah dan ketaatan yang paling tinggi. (Al-Asyqar halaman 29,1989).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dalil yang paling kuat bahwa malaikat makhluk mukallaf adalah kisah tentang perintah Allah kepada mereka untuk susjud kepada Adam. Allah swt. berfirman di dalam surat Al-Baqarah ayat 34:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, &ldquo;Sujudlah kamu kepada Adam.&rdquo; Maka sujudlah mereka, kecuali Iblis; ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Malaikat Terjaga Dari Salah</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dari paparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa malaikat terhindar dari kesalahan dan perbuatan dosa. Namun, jumhur ulama berpendapat, malaikat tidak ma&rsquo;shum. Dalil-dalil sebagai berikut.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.&rdquo; </em>(Fushilat: 38)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Di ayat 30 surat Al-Baqarah, malaikat berkata, <em>&ldquo;Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.</em> Malaikat mencela terjadinya maksiat yang dilakukan Adam dan keturunannya, dan ini berarti menunjukkan bahwa mereka (malaikat) bebas dari dosa. Sikap mereka itu diperkuat dengan kata-kata, &ldquo;<em>Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.&rdquo; </em>Yang berarti mereka senantiasa bertasbih dan mensucikan Allah tanpa henti.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sedangkan dalil yang mengatakan bahwa malaikat tidak ma&rsquo;shum adalah seperti yang dikemukakan Imam Ar-Razi dalam tafsirnya yang juga bantahan atas pendapat malaikat terbebas dari salah.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Menurut Ar-Razi, firman Allah swt., <em>&ldquo;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.&rdquo; Mereka berkata, &ldquo;Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?</em>&rdquo; adalah dalil yang mencela para malaikat bukannya sebagai dalil tentang bebasnya malaikat dari kesalahan. Hal itu ditinjau dari beberapa sisi:</span></span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bahwa perkataan malaikat, <em>&ldquo;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.&rdquo; Mereka berkata, &ldquo;Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah&rdquo; </em>adalah bantahan mereka terhadap Allah dan sikap ini di antara dosa yang paling besar.</span></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bahwa para malaikat telah melakukan ghibah Adam dan keturunannya dengan mempertanyakan tentang mereka, sementara ghibah adalah salah satu dosa besar.</span></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bahwa malaikat telah memuji diri mereka sendiri setelah mempertanyakan keturunan Adam dengan perkataan, &ldquo;<em>Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau.&rdquo; </em>Bukankah memuji diri sendiri adalah tercela dan dapat mengakibatkan ujub atau bangga terhadap diri sendiri, dan ini adalah sikap tercela sebagaimana Allah berfirman dalam surat An Najm ayat 32?</span></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bahwa perkataan mereka, <em>&ldquo;Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.&rdquo;</em> adalah sikap minta permakluman dan itu tidak terjadi kecuali karena telah melakukan kesalahan.</span></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bahwa firman Allah swt., <em>&ldquo;Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar! </em>Dapat dipahami bahwa mereka telah berdusta pada apa yang mereka katakan.</span></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bahwa firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 33, &ldquo;Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?&rdquo; Dapat dipahami bahwa mereka meragukan bahwa Allah mengetahui segala hal.</span></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bahwa tuduhan mereka terhadap manusia hanya berdasar dugaan (dzhan) dan ini tidak dibenarkan sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Israa ayat 36.</span></span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.&ldquo;</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Download Iman Kepada Malaikat:</strong></span></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ziddu.com/download/17704767/ImanKepadaMalaikat.docx.html" target="_blank"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">http://www.ziddu.com/download/17704767/ImanKepadaMalaikat.docx.html</span></span></a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Hari Akhir</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-hari-akhir/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-hari-akhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 10:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Rukun Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[Iman Kepada Hari Akhir Kehidupan manusia terbagi menjadi dua: kehidupan pendek di Darul &#8216;Amal dan kehidupan abadi di Darul Jaza. Darul &#8216;Amal (tempat beramal) adalah<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-hari-akhir/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Iman Kepada Hari Akhir</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Kehidupan manusia terbagi menjadi dua: kehidupan pendek di Darul &lsquo;Amal dan kehidupan abadi di Darul Jaza.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Darul &lsquo;Amal (tempat beramal) adalah bumi atau dunia yang kita tempati sekarang ini sampai batas waktu tertentu yang amat singkat. Dunia adalah tempat dan waktu yang diberikan kepada kita untuk melakukan amal yang kita kehendaki seperti orang-orang sebelum kita yang juga telah mengalaminya. Allah swt. berfirman:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun akantetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.&rdquo; (Fathir: 44-45)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Setiap lewat sehari, kesempatan hidup pun berkurang dan kita semakin dekat dengan Darul Jaza (negeri balasan). Dan bila kesempatan itu benar-benar habis, hidup di dunia ini terasa kurang dari sesaat. Allah swt berfirman:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.&rdquo; (Yunus: 45)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sedangkan yang dimaksud dengan Darul Jaza adalah negeri akhirat, tempat manusia mendapatkan balasan semua perbuatannya di Darul Amal. Dan maut adalah titik perpindahan dari Darul Amal ke Darul Jaza. Allah swt. berfirman:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Katakanlah: &lsquo;Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmu-lah kamu akan dikembalikan.&rsquo; Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): &lsquo;Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.&rsquo;&rdquo; (As-Sajadah: 11-12)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan. Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: &lsquo;Apakah belum pernah datang kepadamu Rasul-Rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?&rsquo; Mereka menjawab: &lsquo;Benar (telah datang).&rsquo; Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir. Dikatakan (kepada mereka): &lsquo;Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.&rsquo; Maka neraka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: &lsquo;Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.&rsquo; Dan mereka mengucapkan: &lsquo;Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.&rsquo; Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di sekeliling &lsquo;Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: &lsquo;Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.&rsquo;&rdquo; (Az-Zumar: 70-75)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Hari Akhir adalah Bukti Keadilan Ilahi</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Iman seorang mukmin kepada hari akhir punya dalil yang kuat. Dalil yang utama adalah informasi semua Rasul, tanpa kecuali, tentang hakikat hari akhir yang mereka terima dari Allah swt. Para Rasul adalah orang-orang yang telah menunjukkan kepada manusia bukti-bukti kebenaran risalah mereka. Namun disamping itu ada juga dalil-dalil aqli (logika).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ada banyak dalil aqli. Tapi, salah satunya adalah dalil logika keadilan Ilahi.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dalam diri manusia ada perasaan cinta kepada keadilan. Ini perasaan yang membuat manusia membenci kezaliman. Pencipta perasaan cinta keadilan dalam diri manusia ini adalah Allah swt., Pencipta manusia, dan merupakan aksioma bahwa Sang Pencipta lebih agung dan lebih sempurna dari ciptaan-Nya, dan bagi Allah segala perumpamaan yang sempurna.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Jadi, keadilan Allah swt. jelas Maha Sempurna, sedangkan makhluknya tidak. Jika rasa keadilan dalam diri manusia menolak perlakuan sama antara orang zalim dan yang terzalimi, antara pembunuh dengan korban terbunuh, orang yang taat dengan yang membangkang, maka keadilan Ilahi yang sempurna tentunya lebih menolak penyamaan antara si zalim dengan yang dizalimi, antara pembunuh dan terbunuh, antara yang taat dan yang melakukan maksiat, antara mukmin dengan kafir, dan antara orang baik dan orang jahat. Allah swt. berfirman:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">&ldquo;Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?&rdquo; (Shad: 27-28)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Namun kita tidak mendapati keadilan sempurna di dunia. Belum ada balasan yang setimpal atas semua perbuatan manusia yang baik maupun buruk. Dengan logika keadilan Ilahi yang tak mungkin diragukan, kita beriman bahwa penghitungan dan balasan amal yang seadil-adilnya itu akan kita temui di hari akhir sebagaimana diinformasikan oleh semua Rasul a.s.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Kesimpulan</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Kehidupan manusia terbagi dua: kehidupan singkat di Darul Amal dan kehidupan abadi di Darul Jaza, sedangkan kematian adalah titik perpindahan antara keduanya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Siapa yang beramal shalih di dunia, Allah swt. akan membalasnya dengan ganjaran pahala. Barangsiapa berbuat buruk, Allah swt. mengancamnya dengan hukuman setimpal. Allah swt. juga mengutus para Rasul kepada manusia, dan mereka telah membuktikan kebenaran pengakuan kerasulan mereka lalu menyampaikan wahyu Allah yang diantaranya berisi keimanan kepada hari akhir dan apa yang terjadi di sana.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Keadilan Allah swt. Maha Sempurna, dan konsekuensinya adalah perlakuan yang tidak sama antara yang jahat dan yang baik. Di dunia ini ganjaran untuk orang yang baik belum sempurna, begitu pula hukuman bagi orang jahat. Oleh karenanya Allah swt. menjadikan hari akhir untuk menyempurnakan penghargaan kepada orang-orang yang telah berbuat baik dan mengadili serta menghukum orang-orang yang ingkar kepada-Nya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Download Iman Kepada Hari Akhir:</strong></span></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ziddu.com/download/17704766/ImanKepadaHariAkhir.docx.html" target="_blank"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">http://www.ziddu.com/download/17704766/ImanKepadaHariAkhir.docx.html</span></span></a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-hari-akhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Semua Rasul (Bagian ke-2)</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-semua-rasul-bagian-ke-2/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-semua-rasul-bagian-ke-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 09:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Rukun Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[Iman Kepada Semua Rasul (Bagian ke-2) Umat Islam adalah satu-satunya umat yang diakui keimanan mereka oleh Allah swt karena umat Rasulullah saw ini beriman kepada<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-semua-rasul-bagian-ke-2/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Iman Kepada Semua Rasul (Bagian ke-2)</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Umat Islam adalah satu-satunya umat yang diakui keimanan mereka oleh Allah swt karena umat Rasulullah saw ini beriman kepada semua Nabi dan Rasul alaihimussalam. Keimanan mereka yang benar dan lurus ini diperintahkan oleh Allah swt untuk dideklarasikan kepada seluruh umat manusia dalam bentuk dakwah islamiyah yang menjadi rahmat bagi alam semesta.</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">قُولُوا آَمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Katakanlah (hai orang-orang mukmin): &ldquo;Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma&rsquo;il, Ishaq, Ya&rsquo;qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya&rdquo;. (Al-Baqarah: 136)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dan Allah menegaskan bahwa orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang beriman seperti keimanan umat Islam yakni beriman kepada Nabi Muhammad dan seluruh nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt :</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">فَ<span style="display: none;">&nbsp;</span>إِنْ آَمَنُوا بِمِثْلِ مَا آَمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا<span style="display: none;">&nbsp;</span></span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu (ummat Islam) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 137)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sebaliknya, jika ada orang yang berpaling dari iman seperti keimanan umat Islam maka ia telah menyimpang dari jalan yang lurus.</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 137)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Pujian Allah swt kepada Nabi Muhammad dan Umatnya Karena Beriman dengan Seluruh Nabi dan Rasul</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Keimanan umat Islam kepada seluruh Nabi dan Rasul dipuji oleh Allah swt dengan firman-Nya:</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): &ldquo;Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya&rdquo;, dan mereka mengatakan: &ldquo;Kami dengar dan kami taat.&rdquo; (Mereka berdoa): &ldquo;Ampunilah Kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.&rdquo; (Al-Baqarah: 285)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Balasan yang Besar dan Ampunan Allah bagi Orang yang Beriman dengan Seluruh Nabi dan Rasul</strong></span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Download pdf Iman Kepada Semua Rasul (Bagian ke-2):</strong></span></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ziddu.com/download/17704529/ImanKepadaSemuaRasulBagianke-2.pdf.html" target="_blank"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">http://www.ziddu.com/download/17704529/ImanKepadaSemuaRasulBagianke-2.pdf.html</span></span></a></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<div id="cke_pastebin" style="position: absolute; top: 326px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden; left: -1000px;">&nbsp;</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-semua-rasul-bagian-ke-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iman Kepada Semua Rasul (Bagian ke-1)</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-semua-rasul-bagian-ke-1/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-semua-rasul-bagian-ke-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 09:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Rukun Iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[Iman Kepada Semua Rasul (Bagian ke-1) Mengingkari Seorang Rasul Berarti Mengingkari Semua Rasul &#160; Iman kepada semua rasul yang diutus oleh Allah swt adalah kewajiban<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-semua-rasul-bagian-ke-1/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Iman Kepada Semua Rasul (Bagian ke-1)</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Mengingkari Seorang Rasul Berarti Mengingkari Semua Rasul</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Iman kepada semua rasul yang diutus oleh Allah swt adalah kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar. Artinya bahwa mengingkari seorang rasul saja merupakan pengingkaran kepada semua rasul. Allah swt berfirman:</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">كَذَّبَتْ قَومُ نُوْحٍ الْمُرْسَلِيْنَ</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.</em>&rdquo; (As-Syu&rsquo;ara (26): 105)</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِيْنَ</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Kaum &lsquo;Aad telah mendustakan para rasul.&rdquo;</em> (As-Syu&rsquo;ara (26): 123).</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوْطٍ الْمُرْسَلِيْنَ</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul.&rdquo;</em> (As-Syu&rsquo;ara (26): 160).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sudah sama-sama kita ketahui bahwa ummat Nabi Nuh as hanya memiliki seorang Nabi yaitu Nabi Nuh as, namun pembangkangan mereka kepada Nabi Nuh as dianggap oleh Allah swt sebagai pendustaan terhadap semua rasul alaihimussalam. Begitu pula kaum &lsquo;Aad yang mendustakan Nabi Hud as dianggap mendustakan semua rasul as, dan ummat Nabi Luth hanya mendustakan Nabi Luth tapi dinyatakan oleh Allah bahwa mereka telah mendustakan seluruh rasul alaihimussalam.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Mengapa?</span></span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Karena semua rasul adalah pembawa risalah dan ajaran yang satu yaitu risalah tauhid (pengesaan terhadap Allah swt dan larangan menyekutukan-Nya dengan apapun atau siapapun).</span></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Juga karena rasul yang diutus lebih awal memberikan kabar gembira akan datangnya rasul sesudahnya, sedangkan rasul yang diutus belakangan selalu membenarkan apa yang disampaikan rasul sebelumnya.</span></span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sehingga pengingkaran kepada seorang rasul saja berarti pengingkaran kepada semua rasul alaihimussalam.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Kekafiran Orang Yang Mengingkari Seorang Rasul dan Ancaman Azab Baginya</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dengan demikian maka orang yang mengaku beriman kepada rasul namun mengingkari atau mendustakan rasul yang lain berarti:</span></span></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Mendustakan Allah swt yang telah mengutus rasul yang diingkarinya.</span></span></li>
<li style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Mendustakan rasul yang ia imani sendiri, karena rasul tersebut membawa misi yang sama dengan rasul yang didustakan, dan karena rasul tersebut membenarkan rasul yang didustakan atau memberi kabar gembira akan kedatangannya.</span></span></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Allah swt berfirman tentang Nabi Isa as:</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-family:verdana,geneva,sans-serif;"><span style="font-size: 16px;"><strong><span dir="RTL">وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: &ldquo;Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).&rdquo;&nbsp; Maka tatkala Rasul itu (Muhammad) datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: &ldquo;Ini adalah sihir yang nyata.&rdquo;</em> (As-Shaf (61): 6).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Nabi Isa alaihissalam sendiri menolak apa yang diyakini oleh orang-orang Nasrani yang menuhankan dirinya:</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ. مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: &ldquo;Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: &ldquo;Jadikanlah aku dan ibuku dua Tuhan selain Allah?&rdquo;.&nbsp; Isa menjawab: &ldquo;Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib&rdquo;. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: &ldquo;Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu&rdquo;, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan Aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.</em> (Al-Maidah (5): 116-117).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Tentang vonis kafir terhadap mereka yang mengaku beriman kepada sebagian rasul saja Allah swt berfirman:</span></span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size:16px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong><span dir="RTL">إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيْدُوْنَ أَن يُّفَرِّقُوْا بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَّيُرِيْدُوْنَ أَن يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً أُولئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ حَقّاً وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا</span></strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: &ldquo;Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)&rdquo;, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.</em> (An-Nisa (4): 150-151).</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ada tiga kelompok manusia terkait iman kepada para rasul:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Pertama,</strong> mereka yang beriman kepada Allah swt dan semua rasul yang diutus oleh-Nya. Merekalah orang-orang yang diakui keimanannya oleh Allah swt.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Kedua,</strong> mereka yang mengingkari Allah dan semua rasul utusan Allah. Mereka adalah orang-orang kafir yang atheis yang hanya mempercayai materi dan kehidupan di dunia saja.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size:12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><strong>Ketiga,</strong> mereka yang mengaku beriman kepada Allah dan mengaku beriman kepada sebagian rasul-rasul Allah swt namun mengingkari rasul tertentu yang diutus oleh Allah swt, seperti orang-orang Yahudi yang mengingkari kerasulan Isa dan Muhammad alaihimassalam dan orang-orang Nasrani yang mengingkari kerasulan Muhammad saw. Mereka merasa dengan bersikap demikian telah mengambil jalan tengah antara iman dan kafir dan jalan tengah ini dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah swt. Padahal harapan mereka hanyalah angan-angan belaka, karena Allah dengan tegas memvonis mereka dengan kekafiran yang sebenar-benarnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="font-family:verdana,geneva,sans-serif;"><span style="font-size: 12px;">Download pdf </span>Iman Kepada Semua Rasul (Bagian ke-1)<span style="font-size: 12px;">:</span></span></strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ziddu.com/download/17704530/ImanKepadaSemuaRasulBagianke-1.pdf.html" target="_blank"><span style="font-family:verdana,geneva,sans-serif;"><span style="font-size: 12px;">http://www.ziddu.com/download/17704530/ImanKepadaSemuaRasulBagianke-1.pdf.html</span></span></a></p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/aqidah/iman-kepada-semua-rasul-bagian-ke-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunaikan Amanah 6 &#8211; Di Bawah Naungan Akidah</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-6-di-bawah-naungan-akidah/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-6-di-bawah-naungan-akidah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 01:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Menunaikan Amanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[MENUNAIKANAIKAN AMANAH. Bag 6. Di Bawah Naungan Akidah Ust. Yassa Syamsuddin, Lc (Ketua Yayasan Da&#8217;wah Islam Al-Fatwa Bandung) &#160; &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-6-di-bawah-naungan-akidah/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">MENUNAIKANAIKAN AMANAH.</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bag 6.</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Di Bawah Naungan Akidah</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ust. Yassa Syamsuddin, Lc</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">(Ketua Yayasan Da&rsquo;wah Islam Al-Fatwa Bandung)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.&rdquo;</em> (Q.S An-Nisa: 58)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Betapa indahnya&nbsp; susunan ayat ini, karena perintah menunaikan amanah dengan jujur dan menegakkan hukum dengan adil ini adalah dari Allah swt yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sebagaimana firman-Nya, <em>&ldquo;Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&rdquo;</em> (potongan akhir QS An-Nisa: 58)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ust.Sayyid Qutb memiliki kesan dengan kalimat yang terdapat pada ayat 58 surat An-Nisa ini, sebagai susunan ayat yang amat serasi dan harmonis antara kalimat perintah menunaikan amanah dan menegakkan keadilan dengan sifat dzat tuhan yang memerintahnya, dimana kejujuran dan keadilan ini memerlukan pemahaman yang utuh berkenaan dengan segala persoalan yang berkaitan dengannya dan juga memerlukan sikap yang sangat bijak untuk menghadapinya. Hal ini hanya bisa diraih dengan cara mempelajarinya melalui mendengar dan melihat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sementara perintah ini pun turun dari dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sehingga keadilan dan kejujuran seorang mukmin akan senantiasa terasa diawasi oleh yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Al-Ustadz Mutawalli Sya&#39;rawi, seorang pakar tafsir dari Mesir, beliau terkesan dengan ayat ini bahwasanya dalam menegakkan keadilan memerlukan dua hal yang harus diperhatikan, pertama; ungkapan kalimat yang disampaikan hendaklah dengan kata-kata yang sama kepada semua orang yang berperkara. Sehingga di dalam ayat ini pun yang paling didahulukan adalah kata sifat sami&#39;an yang berarti Maha Mendengar atas segala ucapan. Kedua; sikap, lirikan mata, dan gerakan-gerakan seorang hakim harus dirasakan sama oleh semua orang yang sedang berperkara. Oleh karenanya, ayat ini pun diikuti oleh kata sifat bashiran artinya Maha Melihat atas segala gerak-gerik, sikap dan lirikan mata para hakim.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sesungguhnya bahwa QS An-Nisa ayat 58 ini adalah Madaniyah, diturunkan di Mekah setelah Rosulullah saw hijrah ke Madinah, yaitu ketika beliau membuka wilayah Mekah sebagai kawasan islam pada tahun 8 Hijriyah.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sebagaimana kita ketahui bahwa ayat-ayat Madaniyah (yang turun setelah hijrah) kebanyakan isinya berbicara tentang perintah melaksanakan kewajiban atau larangan agar meninggalkan perkara yang diharamkan, namun ayat-ayat tersebut sering diakhiri dengan penekanan akidah berupa sifat-sifat Allah swt yang berkenaan dengan perintah pada ayat tersebut, seperti sifat Maha Mendengar lagi Maha Melihat pada QS An-Nisa ayat 58 ini. Atau dengan sifat lainnya seperti Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Berat siksaannya, atau Allah swt mencintai orang-orang yang berserah diri. Sifat-sifat Allah ini senantiasa diungkap sebagai penegasan atas pentingnya perintah yang harus dilaksanakan atau larangan yang harus ditinggalkan.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Hal ini sangat berbeda dengan ayat-ayat Makiyah (ayat yang turun sebelum hijrah), dimana pada umumnya ayat-ayat tersebut pendek-pendek, suaranya menggentarkan dan maknanya pun penuh dengan ancaman. Seperti umpamanya. Al-qaari&#39;ah, mal qaari&#39;ah wa maa adrokamal qaari&#39;ah dan seterusnya. Artinya:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>1.&nbsp; Hari kiamat, </em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>2.&nbsp; Apakah hari kiamat itu?,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>3.&nbsp; Tahukah kamu Apakah hari kiamat itu?,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>4.&nbsp; Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>5.&nbsp; Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>6. Dan Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>7. Maka Dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>8. Dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>10. Tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu?</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>11. (yaitu) api yang sangat panas</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dapat kita rasakan bersama ketika membaca surat ini, betapa ayat demi ayatnya mengantarkan kepada sebuah kondisi hati dan pikiran yang tercerahkan, menatap masa depan dengan penuh harap akan keselamatan, serta mendorong untuk meninggalkan lumpur kemusyrikan dan menghindari kebinasaan. Disamping ayat-ayatnya sangat pendek-pendek mudah dipahami dan dicerna serta bentuk katanya pun dari ayat ke ayat sangat menggentarkan, terutama bagi umat muslim yang memahami bahasa arab dengan baik.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Perjuangan Rosulullah saw dalam menegakkan al-islam ini, dengan dibimbing oleh wahyu selama 13 tahun di Mekah dan setelah itu, beliau berhijrah ke Madinah, 10 tahun beliau tinggal disana. Lalu meninggal dunia. Sementara jumlah umat muslim pada saat itu, sudah mencapai 100 ribuan orang lebih, dalam kondisi ajaran islam sudah sempurna dan umat muslim pun sedang menikmati kesempurnaan islam. Seperti digambarkan dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 3,</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;..pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&rdquo;</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sejak saat itulah, islam telah sempurna disampaikan oleh Rosulullah saw, begitu pula nikmat yang dirasakan oleh umat beriman berada dalam puncak kesempurnaannya, sementara Allah swt pun ridha atas agama yang telah sempurna ini.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Namun demikian, ternyata para shabat tersentak dan kaget dengan turunnya ayat 3 surat Al-Maidah diatas. Karena mereka pun sadar bahwa tugas Rosulullah saw telah selasai dan tentu saja Rosul pun segara akan dipanggil dan kembali menuju keharibaan dzat Allah swt yang telah mengutusnya, yakni meninggal dunia. Sehingga ayat ini pun disambut dengan isak tangis para sahabat yang memahami kandungan maknanya. Diantara mereka yang menangis adalah Abu Bakar Shiddik ra, beliau ditanya oleh sahabat yang lain, &ldquo;mengapa Anda menangis wahai Abu Bakar?&rdquo;. Beliau menjawab, &ldquo;turunnya ayat ini memberikan makna bahwa tugas Rosulullah saw telah berakhir, tidak akan lama lagi beliau akan kembali dipanggil oleh kekasihnya Allah rabbul &#39;alamiin.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Seketika itu pula seluruh sahabat sontak pada menangis, lalu Abu Bakar melanjutkan jawabannya, <em>&ldquo;Sekarang islam sudah sempurna dan kita sama-sama sudah menikmati kesempurnaannya, namun kedepan menjadi tugas dan tanggung jawab kitalah untuk mempertahankan islam yang sudah sempurna ini. Saya menangis khawatir tugas yang mulia ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik.&rdquo;</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sementara ayat 58 surat An-Nisa ini berbicara tentang perintah menunaikan amanah dan menegakkan keadilan, yang merupakan bagian dari kekhawatiran para sahabat terdahulu. Mereka menangis khawatir kenikmatan islam yang sudah dirasakan oleh mereka, justru berkurang pada masa berikutnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Pada saat ini, sudah kian terasa bagi para da&rsquo;i, betapa kekhawatiran mereka, para sahabat terdahulu, sudah menjadi kenyataan di depan mata, sehingga wajarlah jika umat beriman pada saat ini bukan hanya menangis karena khawatir akan berkurangnya kesempurnaan islam di&nbsp; lapangan, akan tetapi menangis serta memohon ampun atas segala kelalaian dan kekhilafan serta memohon agar mendapatkan pertolongan dan kekuatan untuk mengembalikan kejayaan islam yang sudah sempurna ini agar kembali dapat dinikmati sebagai rahmatan lil &lsquo;aalamiin pada masa kini.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Adapun untuk mengeksiskan pelaksanaan perintah ayat 58 surat An-Nisa tersebut adalah dengan menghayati beraneka ragam penegasan akidah yang berkenaan dengan kebesaran Allah swt. Sementara penegasan yang terakhir adalah kalimat bahwa yang memerintahkan jujur dan adil ini adalah dzat tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ini adalah sebuah akidah yang senantiasa melahirkan kekuatan jiwa, ketahanan mental, kecerdasan akal dan sensitifitas hati ruhani untuk tegaknya sebuah perintah Allah swt seperti yang pernah dinikmati oleh generasi islam terdahulu.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Kita masih teringat sosok Bilal bin Robah ra yang berkulit hitam, berstatus budak, dan berkebangsaan Habsyi. Apabila tanpa akidah, tentu saja, Bilal tidak akan dikenang sampai saat ini. Namun karena Bilal diistimewakan oleh akidahnya, beliau berani menyatakan sikap bahwa tuhannya adalah Allah swt, dihadapan tuannya yang bernama Umayah bin Kholaf, yang berkebangsaan Arab, bahkan keturunan quraisy, yakni marga yang paling terhormat di jazirah Arab, namun akidahnya sudah bobrok karena mempertuhankan berhala.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Kemudian Bilal pun disiksa oleh tuannya dan dibantu oleh para pengikutnya. Namun Bilal tetap teguh berpendirian bahwa tiada tuhan selain Allah swt dengan menyebut kata ahad&#8230;ahad&#8230;ahad. Sehingga pada akhinya Bilal ditebus oleh Abu Bakar sidik ra dan dibebaskannya. Sehingga kedudukan Bilal dan status budaknya berakhir. Dengan demikian, sejajarlah Bilal dengan tuannya, bahkan ia lebih&nbsp; mulia karena akidahnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ketika terjadi kontak senjata antara kaum muslimin Muhajirin dan Anshar di Madinah dengan orang-orang kafir Quraisy. Kata-kata Bilal 13 tahun yang lalu yakni <em>Ahad&#8230;Ahad&hellip;Ahad&hellip; </em>yang berarti <em>Allah Maha Esa&hellip;Allah Maha Esa&hellip;Allah Maha Esa&hellip;</em>dijadikan Rosulullah saw sebagai kata komando dan kata yang menggerakkan pasukan umat muslim, sebagai penghormatan Rosulullah saw kepada Bilal yang telah menjadikan kalimat tauhid ini sebagai perlawanan terhadap orang-orang musyrik yang menghadangnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Pada saat ini, kekukatan akidah sangat diperlukan dalam menegakkan perintah Allah swt di muka bumi dan untuk menumbangkan berbagai macam bentuk berhala yang menjadi sesembahan umat maunsia, yang dianggap sebagai sumber ketenangan bahkan menjadi sumber kehormatan.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Banyak orang berpendapat, bahwa berhala masa lalu, kini sudah berubah menjadi uang dan jabatan. Jujur dan adil pun menjadi sulit ditemukan karena tuhan baru inilah yang dominan.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Tugas kita kedepan adalah bagaimana menanamkan akidah sami&#39;an bashiro, yakni Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, agar menjadi kekuatan riil yang dapat menegakkan kejujuran dan keadilan ini di muka bumi. Sehingga jujur dan adil benar-benar tegak di bawah naungan aqidah. (Tamat)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Wallahu a&#39;lam bish showwab</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Download:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ziddu.com/download/17484951/MenunaikanAmanah6.docx.html" target="_blank"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">http://www.ziddu.com/download/17484951/MenunaikanAmanah6.docx.html</span></span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-6-di-bawah-naungan-akidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunaikan Amanah 4: Menegakkan Keadilan</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-4-menegakkan-keadilan/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-4-menegakkan-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 06:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Menunaikan Amanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[&#160;&#160; MENUNAIKAN AMANAH 4 (Menegakkan Keadilan) Ust. H. Yassa Syamsuddin, Lc &#160; &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu)<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-4-menegakkan-keadilan/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;&nbsp;</p>
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;"><b>MENUNAIKAN AMANAH 4</b></div>
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;">
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><b>(Menegakkan Keadilan)</b></span></div>
</div>
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;">
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><b>Ust. H. Yassa Syamsuddin, Lc</b></span></div>
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;">&nbsp;</span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><i><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">&ldquo;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.&rdquo; (Q.S An-Nisa: 58)</span></i></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Menegakkan keadilan merupakan bagian terpenting dari pelaksanaan menunaikan amanah, sekaligus menjadi prinsip kedua&nbsp;dalam membangun sebuah bangsa dan Negara setelah menunaikan amanah. </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Menurut bahasa, kata adil itu banyak maknanya, diantaranya; seimbang, pertengahan, sama, proporsional, sesuai dan lain sebagainya. Sedangkan menurut istilah adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, seperti menjatuhkan sangsi kepada orang yang salah dan memberikan penghargaan kepada orang yang benar atau mempertuhankan dzat yang layak disebut tuhan dan tidak mempertuhankan sesuatu yang tidak memiliki sifat tuhan. Sedangkan lawan kata adil adalah dzolim yang berarti sembarangan atau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kedoliman yang paling besar adalah syirik, menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Perintah Allah swt berkenaan dengan menunaikan amanah dalam firman-Nya, &ldquo;Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menunaikan amanah kepada ahlinya.&rdquo; Kalimat perintah ini bentuknya umum, mencakup semua yang berhak menerima amanah, baik anak-anak, orang tua, muslim ataupun kafir, hendaklah ditunaikan amanahnya. Bahkan kepada yang suka berkhianat sekalipun, harus ditunaikan amanahnya. Artinya bahwa tidak ada amanat yang boleh dikhianati, sekalipun kepada orang yang suka berkhianat. Sebagaimana telah dibahas pada buletin edisi yang lalu.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Begitu pula berkenaan dengan perintah Allah swt untuk menegakkan keadilan, perintah tersebut sifatnya umum, mencakup keadilan terhadap semua manusia tanpa kecuali, yakni harus bersikap adil terhadap orang tua, anak-anak, bahkan kepada orang muslim ataupun orang kafir. Keadilan tersebut, mutlak harus ditegakkan. </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Seorang sahabat besar Imam Ali karramallahu wajhah sangat memahami persoalan ini. Sehingga pada suatu saat, ketika beliau melihat putranya yang masih anak-anak yaitu Hasan bin Ali ra didatangi oleh dua orang anak kecil lainnya yang membawa tulisan kaligrafi hasil karya mereka masing-masing, kemudian mereka meminta kepada Hasan bin Ali karramallahu wajhah untuk memberikan penilaian. Mereka berkata,&rdquo;Manakah tulisan kami yang paling baik?&rdquo; Pada saat itu, Ali bin Abi Thalib menasihati putranya,&rdquo;Wahai Hasan, berhati-hatilah engkau dalam menegakkan hukum karena sesungguhnya hukum yang engkau jatuhkan kepada mereka berdua akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah swt di hari Kiamat kelak.&rdquo; Hal ini&nbsp;menunjukkan betapa besar perhatian Imam Ali terhadap masalah keadilan. Sekalipun dalam persoalan yang sangat sepele, yakni sekedar memberikan penilaian terhadap tulisan anak-anak.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Dalam ajaran islam, menegakkan keadilan hendaknya tidak mengenal golongan, ras, bahkan agama. Hal ini pernah dicontohkan oleh Rosulullah saw, ketika beliau dihadapkan kepada sebuah persoalan yang sangat dilematis. Ketika ada beberapa orang&nbsp;sahabat datang kepadanya, mereka meminta untuk membebaskan seorang muslim dari dakwaan, yakni Tu&#39;mah bin Ubairik yang telah mencuri baju besi dari sahabat lainnya yang bernama Qotadah bin Nu&rsquo;man. Kemudian karena takut ketahuan, maka ia titipkan baju besi tersebut pada salah seorang yahudi yang bernama Zaid as-Samin, sebagai langkah untuk mengaburkan jejak. Kemudian para sahabat tersebut meminta kepada Rosulullah saw agar mendakwa orang yahudi dan membebaskan Tu&#39;mah bin Ubairik yang muslim itu. Namun ternyata, dalam kondisi dilematis seperti ini turunlah Alquran surat an-Nisa ayat 105, </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><i><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">&ldquo;Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.&rdquo;</span></i></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Ayat diatas memberikan pelajaran kepada Rosulullah saw dan selanjutnya kepada kita semua sebagai umatnya, agar mengangkat al-haq (kebenaran) diatas segalanya, termasuk ketika ada dua orang berperkara yang salah satunya seorang muslim sementara yang lainnya non-muslim. Inilah profil pemerintahan islam dimana Rosulullah saw menjadi pemimpin yang pertama dan sekaligus menjadi suri tauladan bagi para pemimpin berikutnya.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Bahkan ayat diatas mengingatkan Rosulullah saw dengan firman-Nya,&rdquo;Janganlah engkau menjadi penantang bagi orang yang tidak bersalah karena membela orang yang berkhianat.&rdquo; </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Karena memang permintaan para sahabat pada saat itu adalah membebaskan Tu&rsquo;mah bin Ubairik yang berkhianat dan menghukum yahudi, yang tidak bersalah dengan alasan <i>&ldquo;seandainya engkau Ya Rosulullah menghukum Tu&#39;mah bin Ubairik berarti engkau telah mencoreng umat islam. Sementara jika engkau menghukum orang yahudi, berarti umat islam selamat di hadapan kaum yang lain.&rdquo;</i></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Inilah yang disebut adil dalam Islam, bukan hanya sekedar wacana, bukan juga sekedar nama atau simbol, akan tetapi merupakan nilai yang mutlak dan universal. Tidak pandang bulu, tidak pilih tebang dan tidak pula mengenal standar ganda.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Sementara apabila ada orang muslim yang terbukti bersalah, maka kewajiban Rosul saw dan juga kewajiban umat islam adalah memohonkan ampun kepada Allah swt. Sebagaimana disampaikan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 106,</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<p>&nbsp;</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><i><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">&ldquo;Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&quot;</span></i></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Maksudnya, bahwa di dalam ajaran islam, apabila terjadi tindak kejahatan di kalangan umat muslim, hendaklah disadari bahwa peristiwa tersebut diakibatkan oleh kelalaian kita bersama. Sehingga apabila tindakan kejahatan itu terjadi, maka seyogyanya kita semua beristigfar memohon ampun kepada-Nya serta membenahi amal ke depan agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, bukan malah bersilat lidah mengaku diri bersih sementara orang yang bersalah di pojokkan tanpa dicari solusinya atau malah karena yang melakukan tindak kejahatan itu saudaranya atau golongannya kemudian dibela dengan mati-matian demi menyelamatkan kehormatan kelompok dan mengorbankan kebenaran. Hal seperti ini sangat dibenci oleh Allah swt. </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Jika kita menelaah sejarah perkembangan dakwah islam dengan seksama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan tersebut dapat diraih hanya karena memperjuangkan al-haq (kebenaran). Dan sebaliknya, ketika masyarakat itu bernama muslim dan mengatasnamakan perjuangan islam, akan tetapi tidak meletakkan al-haq di atas segala-galanya, maka ia akan terhina bahkan dikenang dalam sejarah dengan sebutan yang tidak terpuji. <i>bersambung</i>&#8230;</span></span></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-4-menegakkan-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Putra-putri Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/putra-putri-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/putra-putri-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 09:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Rosulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160;Putra-putri Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam [1] Pada zaman jahiliyah, kelahiran seorang bayi perempuan adalah lembaran hitam dalam kehidupan sepasang suami istri. Bahkan merupakan<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/putra-putri-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div align="center" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;">&nbsp;<b><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Putra-putri Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam <a href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""><span><span><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">[1]</span></b></span></span></a></span></b></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pada zaman jahiliyah, kelahiran seorang bayi perempuan adalah lembaran hitam dalam kehidupan sepasang suami istri. Bahkan merupakan lembaran hitam bagi keluarga dan kabilahnya. Kepercayaan masyarakat jahiliyah seperti itu mendorong mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup karena takut cela dan aib. Penguburan anak perempuan tersebut dilakukan dengan cara yang sangat sadis tanpa ada rasa sayang dan belas kasih sama sekali. Anak perempuan tersebut dikubur hidup-hidup. Mereka melakukan perbuatan terkutuk itu dengan berbagai macam cara. Di antaranya, jika lahir seorang bayi perempuan, mereka sengaja membiarkan bayi itu hidup sampai berusia 6 tahun, kemudian si bapak berkata kepada ibu anak yang malang tersebut: &quot;Dandanilah anak ini, sebab aku akan membawanya menemui paman-pamannya.&quot; Sementara si bapak telah menyiapkan lubang di tengah padang pasir yang sepi. Lalu dibawalah anak perempuannya itu menuju lubang tersebut. Sesampainya di sana si bapak berkata kepadanya: &quot;Lihatlah lubang itu!&quot; lalu sekonyong-konyong ia dorong anak itu ke dalamnya dan menimbunnya dengan tanah secara sadis dan keji. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di tengah-tengah masyarakat jahiliyah seperti itulah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam muncul dengan membawa agama yang agung ini, agama yang menghormati hak-hak perempuan, baik statusnya sebagai ibu, istri, anak, kakak ataupun bibi. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Putri-putri beliau begitu banyak mendapat curahan kasih sayang dari beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam. Apabila Fathimah radhiyallahu &#39;anha datang, beliau akan segera bangkit menyambutnya sambil memegang tangannya, lalu menempatkannya di tempat duduk beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam. Demikian pula bila Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam datang mengunjungi Fathimah radhiyallahu &#39;anhu, ia segera bangkit menyambut beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam sambil menuntun tangan beliau dan menciumnya serta menempatkan beliau di tempat duduknya. (Sebagaimana tertera dalam HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An-Nasaai) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Meskipun beliau begitu sayang kepada putri-putrinya dan begitu memuliakan mereka, namun beliau rela menerima talaq (perceraian) kedua putri beliau Ruqaiyyah dan Ummu Kaltsum radhiyallahu &#39;anhuma dari suami mereka, yaitu &#39;Utbah dan &#39;Utaibah putra Abu Lahab setelah turun surat Al-Lahab (&quot;Binasalah kedua tangan Abu Lahab&quot;). Beliau tetap sabar serta mengharap pahala dari Allah Ta&#39;ala. Beliau tidak berkenan menghentikan dakwah atau surut ke belakang. Pasalnya kaum Quraisy mengancam, bila beliau tidak menghentikan dakwah, maka kedua putri beliau akan dicerai. Namun beliau tetap teguh dan sabar serta tidak goyah dalam mendakwahkan agama Islam. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di antara bentuk sambutan hangat beliau terhadap putri beliau adalah sebagaimana yang dituturkan &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha ia berkata: &quot;Pada suatu hari kami, para istri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam, berada di sisi beliau. Lalu datanglah Fathimah radhiyallahu &#39;anha kepada beliau dengan berjalan kaki. Gaya berjalannya sangat mirip dengan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam melihatnya, beliau memberikan ucapan selamat untuknya, beliau berkata: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Selamat datang wahai putriku.&quot; Kemudian beliau tempatkan ia di sebelah kanan atau kiri beliau.&quot; (HR. Muslim) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di antara bentuk kasih sayang dan cinta beliau kepada putri-putri beliau ialah dengan mengunjungi mereka dan menanyakan kabar dan problem yang mereka hadapi. Fathimah radhiyallahu &#39;anha pernah datang menemui beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam mengadukan tangannya yang lecet karena mengadon tepung, ia meminta seorang pelayan kepada beliau. Namun Fatihmah radhiyallahu &#39;anha tidak bertemu dengan beliau. Fathimah radhiyallahu &#39;anha melaporkan kedatangannya kepada &#39;Aisyah radhiyallah &#39;anha. Setelah Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam kembali, &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha mengabarkan perihal kedatangan Fathimah radhiyallahu &#39;anha. &#39;Ali radhiyallahu &#39;anhu menuturkannya kepada kita: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam lalu datang menemui kami berdua saat kami sudah berbaring di atas dipan. Ketika beliau datang, kamipun segera bangkit. Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam berkata: &quot;Tetaplah di tempat kamu!&quot; beliaupun mendekat lalu duduk di antara kami berdua hingga aku dapat merasa-kan sejuk kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau bersabda: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pelayan?&quot; Apabila kamu hendak tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhaa-nallaah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alham-dulillahi) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya bacaan tersebut lebih baik bagimu daripada seorang pelayan.&quot; (HR. Al-Bukhari) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sungguh, pada diri Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam terdapat teladan yang baik bagi kita, teladan dalam kesabaran dan ketabahan. Seluruh putra-putri beliau wafat sewaktu beliau masih hidup -kecuali Fathimah radhiyallah &#39;anha, namun meskipun demikian beliau tidak menampar-nampar wa-jah, merobek-robek pakaian dan tidak mengadakan kenduri kematian (sebagaimana yang dilakukan mayoritas manusia sebagai ungkapan kesedihan dan belasungkawa). Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam tetap sabar dan tabah dengan mengharap pahala dari Allah Ta&#39;ala serta ridha atas takdir dan ketentuan Allah Ta&#39;ala.</span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;</span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;">&nbsp;</div>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div id="ftn1">
<div><a href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""><span><span><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">[1]</span></span></span></a> <span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">RASULULLAH SHALLALLAHU&#39;ALAIHI WASALLAM, Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim</span></div>
</p></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote>
<p><strong><span style="font-family: Verdana;">Download</span></strong><span style="font-family: Verdana;">:</span></p>
<p><span style="font-family: Verdana;"><a href="http://www.ziddu.com/download/16961885/Putra-putriRasulullahShalallaahualaihiwasalam.docx.html" target="_blank">http://www.ziddu.com/download/16961884/isanRumahTanggaRasulullahShalallaahualaihiwasalam.docx.html</a></span></p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/putra-putri-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keharmonisan Rumah Tangga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/keharmonisan-rumah-tangga-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/keharmonisan-rumah-tangga-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 09:02:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Rosulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[&#160;&#160; &#160;Keharmonisan Rumah Tangga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam [1] Di bawah naungan rumah tangga yang bersahaja di situlah tinggal sang istri, pahlawan di balik layar<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/keharmonisan-rumah-tangga-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;&nbsp;</p>
<div align="center" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;">&nbsp;<b><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Keharmonisan Rumah Tangga Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam <a href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""><span><span><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">[1]</span></b></span></span></a></span></b></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di bawah naungan rumah tangga yang bersahaja di situlah tinggal sang istri, pahlawan di balik layar pembawa ketenangan dan kesejukan. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam bersabda: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Dunia itu penuh dengan kenikmatan. Dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri yang shalihah.&quot; (Lihat Shahih Jami&#39; Shaghir karya Al-Albani) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Di antara keelokan budi pekerti Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam dan keharmonisan rumah tangga beliau ialah memanggil &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha dengan nama kesayangan dan mengabarkan kepadanya berita yang membuat jiwa serasa melayang-layang. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Aisyah radhiyallah &#39;anha menuturkan: &quot;Pada suatu hari Rasu-lullah shallallahu &#39;alaihi wasallam berkata kepadanya: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Wahai &#39;Aisy (panggilan kesayangan &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha ), Malaikat Jibril &#39;alaihissalam tadi menyampaikan salam buatmu.&quot; (Muttafaq &#39;alaih) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bahkan beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam selaku Nabi umat ini yang paling sempurna akhlaknya dan paling tinggi derajatnya telah memberikan sebuah contoh yang berharga dalam hal berlaku baik kepada sang istri dan dalam hal kerendahan hati, serta dalam hal mengetahui keinginan dan kecemburuan wanita. Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam menempatkan mereka pada kedudukan yang diidam-idamkan oleh seluruh kaum hawa. Yaitu menjadi seorang istri yang memiliki kedudukan terhormat di samping suaminya. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Aisyah radhiyallahu &#39;anha menuturkan: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Suatu ketika aku minum, dan aku sedang haidh, lantas aku memberikan gelasku kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam dan beliau meminumnya dari mulut gelas tempat aku minum. Dalam kesempatan lain aku memakan sepotong daging, lantas beliau mengambil potongan daging itu dan memakannya tepat di tempat aku memakannya.&quot; (HR. Muslim) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam tidaklah seperti yang diduga oleh kaum munafikin atau seperti yang dituduhkan kaum orientalis dengan tuduhan-tuduhan palsu dan pengakuan-pengakuan bathil. Bahkan beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam lebih memilih etika berumah tangga yang paling elok dan sederhana. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;">&nbsp;</div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Diriwayatkan oleh &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha bahwa ia berkata: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam pernah mencium salah seorang istri beliau kemudian berangkat menunaikan shalat tanpa memperbaharui wudhu&#39;.&quot; (HR. Abu Daud dan Tirmidzi) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menjelaskan dengan gamblang tingginya kedudukan kaum wanita di sisi beliau. Mereka kaum hawa memiliki kedudukan yang agung dan derajat yang tinggi. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam pernah menjawab pertanyaan &#39;Amr bin Al-&#39;Ash radhiyallah &#39;anhu seputar masalah ini, beliau jelaskan kepadanya bahwa mencintai istri bukanlah suatu hal yang tabu bagi seorang lelaki yang normal. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Amr bin Al-&#39;Ash radhiyallahu &#39;anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam : &quot;Siapakah orang yang paling engkau cintai?&quot; beliau menjawab: &quot;&#39;Aisyah!&quot; (Muttafaq &#39;alaih) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Barangsiapa yang mengidamkan kebahagiaan rumah tangga, hendaklah ia memperhatikan kisah- kisah &#39;Aisyah radhiyallah &#39;anha bersama Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam. Bagaimana kiat-kiat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam membahagiakan &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Dari &#39;Aisyah radhiyallahu &#39;anha ia berkata: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Aku biasa mandi berdua bersama Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam dari satu bejana.&quot; (HR. Al-Bukhari) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Rasulullah tidak melewatkan kesempatan sedikit pun kecuali beliau manfaatkan untuk membahagiakan dan menyenangkan istri melalui hal-hal yang dibolehkan. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Aisyah radhiyallah &#39;anha mengisahkan: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pada suatu ketika aku ikut bersama Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam dalam sebuah lawatan. Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku: &quot;Kemarilah! sekarang kita berlomba lari.&quot; Aku pun meladeninya dan akhirnya aku dapat mengungguli beliau. Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam hanya diam saja atas keunggulanku tadi. Hingga pada kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan akhirnya beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata: &quot;Inilah penebus kekalahan yang lalu!&quot; (HR. Ahmad) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sungguh! merupakan sebuah bentuk permainan yang sangat lembut dan sebuah perhatian yang sangat besar. Beliau perintahkan rombongan untuk berangkat terlebih dahulu agar beliau dapat menghibur hati sang istri dengan mengajaknya berlomba lari. Kemudian beliau memadukan permainan yang lalu dengan yang baru, beliau berkata: &quot;Inilah penebus kekalahan yang lalu!&quot; </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bagi mereka yang sering bepergian melanglang buana serta memperhatikan keadaan orang-orang yang terpandang pada tiap-tiap kaum, pasti akan takjub terhadap perbuatan Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam. Beliau adalah seorang Nabi yang mulia, pemimpin yang selalu berjaya, keturunan terhormat suku Quraisy dan Bani Hasyim. Pada saat-saat kejayaan, beliau kembali dari sebuah peperangan dengan membawa kemenangan bersama rombongan pasukan besar. Meskipun demikian, beliau tetap seorang yang penuh kasih sayang dan rendah hati terhadap istri-istri beliau para Ummahaatul Mukiminin radhiyallah &#39;anhu. Kedudukan beliau sebagai pemimpin pasukan, perjalanan panjang yang ditempuh, serta kemenangan demi kemenangan yang diraih di medan pertempuran, tidak membuat beliau lupa bahwa beliau didampingi para istri-istri kaum hawa yang lemah yang sangat membutuhkan sentuhan lembut dan bisikan manja. Agar dapat menghapus beban berat perjalanan yang sangat meletihkan. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa ketika Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam kembali dari peperangan Khaibar, beliau menikahi Shafiyyah binti Huyaiy radhiyallahu &#39;anha. Beliau shallallahu &#39;alaihi wasallam mengulurkan tirai di dekat unta yang akan ditunggangi untuk melindungi Shafiyyah radhiyallah &#39;anha dari pandangan orang. Kemudian beliau duduk bertumpu pada lutut di sisi unta tersebut, beliau persilakan Shafiyyah radhiyallah &#39;anha untuk naik ke atas unta dengan bertumpu pada lutut beliau. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pemandangan seperti ini memberikan kesan begitu mendalam yang menunjukkan ketawadhu&#39;an beliau. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam selaku pemimpin yang berjaya dan seorang Nabi yang diutus- memberikan teladan kepada umatnya bahwa bersikap tawadhu&#39; kepada istri, mempersilakan lutut beliau sebagai tumpuan, membantu pekerjaan rumah, membahagiakan istri, sama sekali tidak mengurangi derajat dan kedudukan beliau.</span></div>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div id="ftn1">
<div><a href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""><span><span><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">[1]</span></span></span></a> <span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">RASULULLAH SHALLALLAHU&#39;ALAIHI WASALLAM, Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim</span></div>
</p></div>
</div>
<blockquote>
<p><span style="font-family: Verdana;">Download:</span></p>
<p><span style="font-family: Verdana;"><a href="http://www.ziddu.com/download/16961884/isanRumahTanggaRasulullahShalallaahualaihiwasalam.docx.html" target="_blank">http://www.ziddu.com/download/16961884/isanRumahTanggaRasulullahShalallaahualaihiwasalam.docx.html</a></span></p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/keharmonisan-rumah-tangga-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kediaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/kediaman-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/kediaman-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 09:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Sifat Rosulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160;Kediaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam[1] Izin telah diberikan, tibalah kita di dalam rumah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Cobalah layangkan pandangan sejenak ke<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/kediaman-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div align="center" style="margin-bottom: 6pt; text-align: center;">&nbsp;<b><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kediaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam<a href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""><span><span><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">[1]</span></b></span></span></a></span></b></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Izin telah diberikan, tibalah kita di dalam rumah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Cobalah layangkan pandangan sejenak ke sudut-sudut rumah, para sahabat radhiyallaahu anhum akan menggambarkan kepada kita situasi di dalamnya berupa peralatan dan perabotan dll. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kita maklumi bersama bahwa tidaklah diperkenankan melayangkan pandangan ke dalam kamar atau rumah orang lain. Namun tujuan kita di sini adalah untuk mengambil contoh dan teladan dari rumah yang mulia tersebut. Rumah dengan ketawadhu&#39;an sebagai asasnya dan keimanan sebagai modalnya. Dapat engkau lihat, dindingnya bersih dari gambar-gambar makhluk bernyawa yang banyak dipajang orang di rumah-rumah kebanyakan orang pada hari ini. Padahal Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah bersabda: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang terdapat padanya anjing atau gambar.&quot; (HR. Al-Bukhari) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kemudian arahkan pandanganmu kepada perabotan rumah yang biasa dipakai beliau Shalallaahu alaihi wasalam sehari-hari. Diriwayatkan dari Tsabit ia berkata: Anas radhiyallaahu anhu memperlihatkan kepada kami sebuah gelas terbuat dari kayu yang tebal dan disepuh dengan besi. Ia berkata: &quot;Wahai Tsabit, inilah gelas Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam .&quot; (HR. At-Tirmidzi) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa meminum air, nabidz, madu dan susu dengan gelas itu. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum.&quot; (HR. Muttafaq &#39;alaih) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Adapun baju perang yang biasa beliau kenakan saat berjihad di medan peperangan, pada hari-hari yang keras dan penuh kesulitan, sudah tidak ditemukan lagi di rumah beliau. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah menggadaikannya kepada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha&#39; gandum, sebagaimana yang dituturkan &#39;Aisyah radhiyalaahu anha. Ketika Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam wafat, baju perang itu masih ada di tangan orang Yahudi tersebut. </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidak pernah membuat kaget keluarga atau membuat mereka takut. Namun beliau menemui keluarga dengan sepengetahuan mereka dan dengan memberi salam terlebih dahulu. (Lihat Zaadul Ma&#39;aad II/ hal 381) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Perhatikanlah dengan saksama hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berikut ini: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Alangkah beruntungnya orang yang mendapat hidayah kepada Islam, lalu dia mencukupkan diri dengan kehidupan yang sederhana serta bersikap qana&#39;ah.&quot; (HR. At-Tirmidzi) </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Simaklah baik-baik hadits yang agung berikut ini: </span></div>
<div style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&quot;Barangsiapa yang aman sentosa di tengah-tengah kaumnya, sehat jasmaninya, lagi memiliki makanan pokoknya sehari-hari, maka seakan-akan ia telah meraih dunia dengan segala isinya.&quot; (HR. At-Tirmidzi)</span></div>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div id="ftn1">
<div><a href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""><span><span><span style="font-size: 11pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">[1]</span></span></span></a> <span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">RASULULLAH SHALLALLAHU&#39;ALAIHI WASALLAM, Syaikh Abdul Malik bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Qasim</span></div>
</p></div>
</div>
<blockquote>
<p><span style="font-family: Verdana;">Download:</span></p>
<p><span style="font-family: Verdana;"><a href="http://www.ziddu.com/download/16961888/KediamanRasulullahShalallaahualaihiwasalam.docx.html" target="_blank">http://www.ziddu.com/download/16961888/KediamanRasulullahShalallaahualaihiwasalam.docx.html</a></span></p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/akhlak/kediaman-rasulullah-shalallaahu-alaihi-wasalam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

