<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sutisna.com &#187; Buletin Jum&#8217;at</title>
	<atom:link href="http://www.sutisna.com/category/keislaman/buletin-jumat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sutisna.com</link>
	<description>Sutisna.com</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Apr 2012 23:18:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Menunaikan Amanah 6 &#8211; Di Bawah Naungan Akidah</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-6-di-bawah-naungan-akidah/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-6-di-bawah-naungan-akidah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 01:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Menunaikan Amanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[MENUNAIKANAIKAN AMANAH. Bag 6. Di Bawah Naungan Akidah Ust. Yassa Syamsuddin, Lc (Ketua Yayasan Da&#8217;wah Islam Al-Fatwa Bandung) &#160; &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-6-di-bawah-naungan-akidah/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">MENUNAIKANAIKAN AMANAH.</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Bag 6.</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Di Bawah Naungan Akidah</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ust. Yassa Syamsuddin, Lc</span></span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">(Ketua Yayasan Da&rsquo;wah Islam Al-Fatwa Bandung)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.&rdquo;</em> (Q.S An-Nisa: 58)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Betapa indahnya&nbsp; susunan ayat ini, karena perintah menunaikan amanah dengan jujur dan menegakkan hukum dengan adil ini adalah dari Allah swt yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sebagaimana firman-Nya, <em>&ldquo;Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.&rdquo;</em> (potongan akhir QS An-Nisa: 58)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ust.Sayyid Qutb memiliki kesan dengan kalimat yang terdapat pada ayat 58 surat An-Nisa ini, sebagai susunan ayat yang amat serasi dan harmonis antara kalimat perintah menunaikan amanah dan menegakkan keadilan dengan sifat dzat tuhan yang memerintahnya, dimana kejujuran dan keadilan ini memerlukan pemahaman yang utuh berkenaan dengan segala persoalan yang berkaitan dengannya dan juga memerlukan sikap yang sangat bijak untuk menghadapinya. Hal ini hanya bisa diraih dengan cara mempelajarinya melalui mendengar dan melihat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sementara perintah ini pun turun dari dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sehingga keadilan dan kejujuran seorang mukmin akan senantiasa terasa diawasi oleh yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Al-Ustadz Mutawalli Sya&#39;rawi, seorang pakar tafsir dari Mesir, beliau terkesan dengan ayat ini bahwasanya dalam menegakkan keadilan memerlukan dua hal yang harus diperhatikan, pertama; ungkapan kalimat yang disampaikan hendaklah dengan kata-kata yang sama kepada semua orang yang berperkara. Sehingga di dalam ayat ini pun yang paling didahulukan adalah kata sifat sami&#39;an yang berarti Maha Mendengar atas segala ucapan. Kedua; sikap, lirikan mata, dan gerakan-gerakan seorang hakim harus dirasakan sama oleh semua orang yang sedang berperkara. Oleh karenanya, ayat ini pun diikuti oleh kata sifat bashiran artinya Maha Melihat atas segala gerak-gerik, sikap dan lirikan mata para hakim.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sesungguhnya bahwa QS An-Nisa ayat 58 ini adalah Madaniyah, diturunkan di Mekah setelah Rosulullah saw hijrah ke Madinah, yaitu ketika beliau membuka wilayah Mekah sebagai kawasan islam pada tahun 8 Hijriyah.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sebagaimana kita ketahui bahwa ayat-ayat Madaniyah (yang turun setelah hijrah) kebanyakan isinya berbicara tentang perintah melaksanakan kewajiban atau larangan agar meninggalkan perkara yang diharamkan, namun ayat-ayat tersebut sering diakhiri dengan penekanan akidah berupa sifat-sifat Allah swt yang berkenaan dengan perintah pada ayat tersebut, seperti sifat Maha Mendengar lagi Maha Melihat pada QS An-Nisa ayat 58 ini. Atau dengan sifat lainnya seperti Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Berat siksaannya, atau Allah swt mencintai orang-orang yang berserah diri. Sifat-sifat Allah ini senantiasa diungkap sebagai penegasan atas pentingnya perintah yang harus dilaksanakan atau larangan yang harus ditinggalkan.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Hal ini sangat berbeda dengan ayat-ayat Makiyah (ayat yang turun sebelum hijrah), dimana pada umumnya ayat-ayat tersebut pendek-pendek, suaranya menggentarkan dan maknanya pun penuh dengan ancaman. Seperti umpamanya. Al-qaari&#39;ah, mal qaari&#39;ah wa maa adrokamal qaari&#39;ah dan seterusnya. Artinya:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>1.&nbsp; Hari kiamat, </em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>2.&nbsp; Apakah hari kiamat itu?,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>3.&nbsp; Tahukah kamu Apakah hari kiamat itu?,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>4.&nbsp; Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>5.&nbsp; Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>6. Dan Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>7. Maka Dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>8. Dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>10. Tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu?</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>11. (yaitu) api yang sangat panas</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Dapat kita rasakan bersama ketika membaca surat ini, betapa ayat demi ayatnya mengantarkan kepada sebuah kondisi hati dan pikiran yang tercerahkan, menatap masa depan dengan penuh harap akan keselamatan, serta mendorong untuk meninggalkan lumpur kemusyrikan dan menghindari kebinasaan. Disamping ayat-ayatnya sangat pendek-pendek mudah dipahami dan dicerna serta bentuk katanya pun dari ayat ke ayat sangat menggentarkan, terutama bagi umat muslim yang memahami bahasa arab dengan baik.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Perjuangan Rosulullah saw dalam menegakkan al-islam ini, dengan dibimbing oleh wahyu selama 13 tahun di Mekah dan setelah itu, beliau berhijrah ke Madinah, 10 tahun beliau tinggal disana. Lalu meninggal dunia. Sementara jumlah umat muslim pada saat itu, sudah mencapai 100 ribuan orang lebih, dalam kondisi ajaran islam sudah sempurna dan umat muslim pun sedang menikmati kesempurnaan islam. Seperti digambarkan dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 3,</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>&ldquo;..pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&rdquo;</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sejak saat itulah, islam telah sempurna disampaikan oleh Rosulullah saw, begitu pula nikmat yang dirasakan oleh umat beriman berada dalam puncak kesempurnaannya, sementara Allah swt pun ridha atas agama yang telah sempurna ini.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Namun demikian, ternyata para shabat tersentak dan kaget dengan turunnya ayat 3 surat Al-Maidah diatas. Karena mereka pun sadar bahwa tugas Rosulullah saw telah selasai dan tentu saja Rosul pun segara akan dipanggil dan kembali menuju keharibaan dzat Allah swt yang telah mengutusnya, yakni meninggal dunia. Sehingga ayat ini pun disambut dengan isak tangis para sahabat yang memahami kandungan maknanya. Diantara mereka yang menangis adalah Abu Bakar Shiddik ra, beliau ditanya oleh sahabat yang lain, &ldquo;mengapa Anda menangis wahai Abu Bakar?&rdquo;. Beliau menjawab, &ldquo;turunnya ayat ini memberikan makna bahwa tugas Rosulullah saw telah berakhir, tidak akan lama lagi beliau akan kembali dipanggil oleh kekasihnya Allah rabbul &#39;alamiin.&rdquo;</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Seketika itu pula seluruh sahabat sontak pada menangis, lalu Abu Bakar melanjutkan jawabannya, <em>&ldquo;Sekarang islam sudah sempurna dan kita sama-sama sudah menikmati kesempurnaannya, namun kedepan menjadi tugas dan tanggung jawab kitalah untuk mempertahankan islam yang sudah sempurna ini. Saya menangis khawatir tugas yang mulia ini tidak bisa dilaksanakan dengan baik.&rdquo;</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Sementara ayat 58 surat An-Nisa ini berbicara tentang perintah menunaikan amanah dan menegakkan keadilan, yang merupakan bagian dari kekhawatiran para sahabat terdahulu. Mereka menangis khawatir kenikmatan islam yang sudah dirasakan oleh mereka, justru berkurang pada masa berikutnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Pada saat ini, sudah kian terasa bagi para da&rsquo;i, betapa kekhawatiran mereka, para sahabat terdahulu, sudah menjadi kenyataan di depan mata, sehingga wajarlah jika umat beriman pada saat ini bukan hanya menangis karena khawatir akan berkurangnya kesempurnaan islam di&nbsp; lapangan, akan tetapi menangis serta memohon ampun atas segala kelalaian dan kekhilafan serta memohon agar mendapatkan pertolongan dan kekuatan untuk mengembalikan kejayaan islam yang sudah sempurna ini agar kembali dapat dinikmati sebagai rahmatan lil &lsquo;aalamiin pada masa kini.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Adapun untuk mengeksiskan pelaksanaan perintah ayat 58 surat An-Nisa tersebut adalah dengan menghayati beraneka ragam penegasan akidah yang berkenaan dengan kebesaran Allah swt. Sementara penegasan yang terakhir adalah kalimat bahwa yang memerintahkan jujur dan adil ini adalah dzat tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ini adalah sebuah akidah yang senantiasa melahirkan kekuatan jiwa, ketahanan mental, kecerdasan akal dan sensitifitas hati ruhani untuk tegaknya sebuah perintah Allah swt seperti yang pernah dinikmati oleh generasi islam terdahulu.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Kita masih teringat sosok Bilal bin Robah ra yang berkulit hitam, berstatus budak, dan berkebangsaan Habsyi. Apabila tanpa akidah, tentu saja, Bilal tidak akan dikenang sampai saat ini. Namun karena Bilal diistimewakan oleh akidahnya, beliau berani menyatakan sikap bahwa tuhannya adalah Allah swt, dihadapan tuannya yang bernama Umayah bin Kholaf, yang berkebangsaan Arab, bahkan keturunan quraisy, yakni marga yang paling terhormat di jazirah Arab, namun akidahnya sudah bobrok karena mempertuhankan berhala.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Kemudian Bilal pun disiksa oleh tuannya dan dibantu oleh para pengikutnya. Namun Bilal tetap teguh berpendirian bahwa tiada tuhan selain Allah swt dengan menyebut kata ahad&#8230;ahad&#8230;ahad. Sehingga pada akhinya Bilal ditebus oleh Abu Bakar sidik ra dan dibebaskannya. Sehingga kedudukan Bilal dan status budaknya berakhir. Dengan demikian, sejajarlah Bilal dengan tuannya, bahkan ia lebih&nbsp; mulia karena akidahnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Ketika terjadi kontak senjata antara kaum muslimin Muhajirin dan Anshar di Madinah dengan orang-orang kafir Quraisy. Kata-kata Bilal 13 tahun yang lalu yakni <em>Ahad&#8230;Ahad&hellip;Ahad&hellip; </em>yang berarti <em>Allah Maha Esa&hellip;Allah Maha Esa&hellip;Allah Maha Esa&hellip;</em>dijadikan Rosulullah saw sebagai kata komando dan kata yang menggerakkan pasukan umat muslim, sebagai penghormatan Rosulullah saw kepada Bilal yang telah menjadikan kalimat tauhid ini sebagai perlawanan terhadap orang-orang musyrik yang menghadangnya.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Pada saat ini, kekukatan akidah sangat diperlukan dalam menegakkan perintah Allah swt di muka bumi dan untuk menumbangkan berbagai macam bentuk berhala yang menjadi sesembahan umat maunsia, yang dianggap sebagai sumber ketenangan bahkan menjadi sumber kehormatan.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Banyak orang berpendapat, bahwa berhala masa lalu, kini sudah berubah menjadi uang dan jabatan. Jujur dan adil pun menjadi sulit ditemukan karena tuhan baru inilah yang dominan.</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Tugas kita kedepan adalah bagaimana menanamkan akidah sami&#39;an bashiro, yakni Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, agar menjadi kekuatan riil yang dapat menegakkan kejujuran dan keadilan ini di muka bumi. Sehingga jujur dan adil benar-benar tegak di bawah naungan aqidah. (Tamat)</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;"><em>Wallahu a&#39;lam bish showwab</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">Download:</span></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ziddu.com/download/17484951/MenunaikanAmanah6.docx.html" target="_blank"><span style="font-size: 12px;"><span style="font-family: verdana,geneva,sans-serif;">http://www.ziddu.com/download/17484951/MenunaikanAmanah6.docx.html</span></span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-6-di-bawah-naungan-akidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunaikan Amanah 4: Menegakkan Keadilan</title>
		<link>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-4-menegakkan-keadilan/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-4-menegakkan-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 06:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buletin Jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[Menunaikan Amanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[&#160;&#160; MENUNAIKAN AMANAH 4 (Menegakkan Keadilan) Ust. H. Yassa Syamsuddin, Lc &#160; &#8220;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu)<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-4-menegakkan-keadilan/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;&nbsp;</p>
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;"><b>MENUNAIKAN AMANAH 4</b></div>
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;">
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><b>(Menegakkan Keadilan)</b></span></div>
</div>
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;">
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><b>Ust. H. Yassa Syamsuddin, Lc</b></span></div>
</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;">&nbsp;</span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><i><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">&ldquo;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.&rdquo; (Q.S An-Nisa: 58)</span></i></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Menegakkan keadilan merupakan bagian terpenting dari pelaksanaan menunaikan amanah, sekaligus menjadi prinsip kedua&nbsp;dalam membangun sebuah bangsa dan Negara setelah menunaikan amanah. </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Menurut bahasa, kata adil itu banyak maknanya, diantaranya; seimbang, pertengahan, sama, proporsional, sesuai dan lain sebagainya. Sedangkan menurut istilah adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, seperti menjatuhkan sangsi kepada orang yang salah dan memberikan penghargaan kepada orang yang benar atau mempertuhankan dzat yang layak disebut tuhan dan tidak mempertuhankan sesuatu yang tidak memiliki sifat tuhan. Sedangkan lawan kata adil adalah dzolim yang berarti sembarangan atau menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Kedoliman yang paling besar adalah syirik, menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Perintah Allah swt berkenaan dengan menunaikan amanah dalam firman-Nya, &ldquo;Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menunaikan amanah kepada ahlinya.&rdquo; Kalimat perintah ini bentuknya umum, mencakup semua yang berhak menerima amanah, baik anak-anak, orang tua, muslim ataupun kafir, hendaklah ditunaikan amanahnya. Bahkan kepada yang suka berkhianat sekalipun, harus ditunaikan amanahnya. Artinya bahwa tidak ada amanat yang boleh dikhianati, sekalipun kepada orang yang suka berkhianat. Sebagaimana telah dibahas pada buletin edisi yang lalu.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Begitu pula berkenaan dengan perintah Allah swt untuk menegakkan keadilan, perintah tersebut sifatnya umum, mencakup keadilan terhadap semua manusia tanpa kecuali, yakni harus bersikap adil terhadap orang tua, anak-anak, bahkan kepada orang muslim ataupun orang kafir. Keadilan tersebut, mutlak harus ditegakkan. </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Seorang sahabat besar Imam Ali karramallahu wajhah sangat memahami persoalan ini. Sehingga pada suatu saat, ketika beliau melihat putranya yang masih anak-anak yaitu Hasan bin Ali ra didatangi oleh dua orang anak kecil lainnya yang membawa tulisan kaligrafi hasil karya mereka masing-masing, kemudian mereka meminta kepada Hasan bin Ali karramallahu wajhah untuk memberikan penilaian. Mereka berkata,&rdquo;Manakah tulisan kami yang paling baik?&rdquo; Pada saat itu, Ali bin Abi Thalib menasihati putranya,&rdquo;Wahai Hasan, berhati-hatilah engkau dalam menegakkan hukum karena sesungguhnya hukum yang engkau jatuhkan kepada mereka berdua akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah swt di hari Kiamat kelak.&rdquo; Hal ini&nbsp;menunjukkan betapa besar perhatian Imam Ali terhadap masalah keadilan. Sekalipun dalam persoalan yang sangat sepele, yakni sekedar memberikan penilaian terhadap tulisan anak-anak.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Dalam ajaran islam, menegakkan keadilan hendaknya tidak mengenal golongan, ras, bahkan agama. Hal ini pernah dicontohkan oleh Rosulullah saw, ketika beliau dihadapkan kepada sebuah persoalan yang sangat dilematis. Ketika ada beberapa orang&nbsp;sahabat datang kepadanya, mereka meminta untuk membebaskan seorang muslim dari dakwaan, yakni Tu&#39;mah bin Ubairik yang telah mencuri baju besi dari sahabat lainnya yang bernama Qotadah bin Nu&rsquo;man. Kemudian karena takut ketahuan, maka ia titipkan baju besi tersebut pada salah seorang yahudi yang bernama Zaid as-Samin, sebagai langkah untuk mengaburkan jejak. Kemudian para sahabat tersebut meminta kepada Rosulullah saw agar mendakwa orang yahudi dan membebaskan Tu&#39;mah bin Ubairik yang muslim itu. Namun ternyata, dalam kondisi dilematis seperti ini turunlah Alquran surat an-Nisa ayat 105, </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><i><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">&ldquo;Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.&rdquo;</span></i></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Ayat diatas memberikan pelajaran kepada Rosulullah saw dan selanjutnya kepada kita semua sebagai umatnya, agar mengangkat al-haq (kebenaran) diatas segalanya, termasuk ketika ada dua orang berperkara yang salah satunya seorang muslim sementara yang lainnya non-muslim. Inilah profil pemerintahan islam dimana Rosulullah saw menjadi pemimpin yang pertama dan sekaligus menjadi suri tauladan bagi para pemimpin berikutnya.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Bahkan ayat diatas mengingatkan Rosulullah saw dengan firman-Nya,&rdquo;Janganlah engkau menjadi penantang bagi orang yang tidak bersalah karena membela orang yang berkhianat.&rdquo; </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Karena memang permintaan para sahabat pada saat itu adalah membebaskan Tu&rsquo;mah bin Ubairik yang berkhianat dan menghukum yahudi, yang tidak bersalah dengan alasan <i>&ldquo;seandainya engkau Ya Rosulullah menghukum Tu&#39;mah bin Ubairik berarti engkau telah mencoreng umat islam. Sementara jika engkau menghukum orang yahudi, berarti umat islam selamat di hadapan kaum yang lain.&rdquo;</i></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Inilah yang disebut adil dalam Islam, bukan hanya sekedar wacana, bukan juga sekedar nama atau simbol, akan tetapi merupakan nilai yang mutlak dan universal. Tidak pandang bulu, tidak pilih tebang dan tidak pula mengenal standar ganda.</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Sementara apabila ada orang muslim yang terbukti bersalah, maka kewajiban Rosul saw dan juga kewajiban umat islam adalah memohonkan ampun kepada Allah swt. Sebagaimana disampaikan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 106,</span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<p>&nbsp;</p>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><i><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">&ldquo;Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&quot;</span></i></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Maksudnya, bahwa di dalam ajaran islam, apabila terjadi tindak kejahatan di kalangan umat muslim, hendaklah disadari bahwa peristiwa tersebut diakibatkan oleh kelalaian kita bersama. Sehingga apabila tindakan kejahatan itu terjadi, maka seyogyanya kita semua beristigfar memohon ampun kepada-Nya serta membenahi amal ke depan agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali, bukan malah bersilat lidah mengaku diri bersih sementara orang yang bersalah di pojokkan tanpa dicari solusinya atau malah karena yang melakukan tindak kejahatan itu saudaranya atau golongannya kemudian dibela dengan mati-matian demi menyelamatkan kehormatan kelompok dan mengorbankan kebenaran. Hal seperti ini sangat dibenci oleh Allah swt. </span></span></div>
<div style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 150%;">Jika kita menelaah sejarah perkembangan dakwah islam dengan seksama, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan tersebut dapat diraih hanya karena memperjuangkan al-haq (kebenaran). Dan sebaliknya, ketika masyarakat itu bernama muslim dan mengatasnamakan perjuangan islam, akan tetapi tidak meletakkan al-haq di atas segala-galanya, maka ia akan terhina bahkan dikenang dalam sejarah dengan sebutan yang tidak terpuji. <i>bersambung</i>&#8230;</span></span></div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/keislaman/buletin-jumat/menunaikan-amanah-4-menegakkan-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

