<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sutisna.com &#187; Kebahasaan</title>
	<atom:link href="http://www.sutisna.com/category/kebahasaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sutisna.com</link>
	<description>Sutisna.com</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Apr 2012 23:18:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Sejarah Pertumbuhan Sosiologi Sastra</title>
		<link>http://www.sutisna.com/kebahasaan/sejarah-pertumbuhan-sosiologi-sastra/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/kebahasaan/sejarah-pertumbuhan-sosiologi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 02:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Latar Belakang]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Sejarah Pertumbuhan Sosiologi Sastra &#160; Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a salient being,<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/kebahasaan/sejarah-pertumbuhan-sosiologi-sastra/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div align="center" style="margin-top: 12pt; text-align: center; line-height: 200%;"><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sejarah Pertumbuhan</span></b><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> Sosiologi Sastra</span></b></div>
<div align="center" style="margin-top: 12pt; text-align: center; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan <i>a salient </i></span><i><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">b</span></i><i><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">eing</span></i><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Konsep dasar sosiologi sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan istilah &#39;mimesis&#39;, yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai &#39;cermin&#39;.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pengertian mimesis (Yunani: perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384-322), dan da</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">ri</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> abad ke abad sangat memengaruhi teori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa (Van Luxemburg, 1986:15).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Menurut Plato, setiap benda yang berwujud mencerminkan suatu ide asti (semacam gambar induk). Jika seorang tukang membuat sebuah kursi, maka ia hanya menjiplak kursi yang terdapat dalam dunia Ide-ide. Jiplakan atau copy itu selalu tidak memadai seperti aslinya; kenyataan yang kita amati dengan pancaindra selalu kalah dari dunia Ide. Seni pada umumnya hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang &#39;kenyataan&#39; (yang juga hanya tiruan dari &#39;Kenyataan Yang Sebenarnya&#39;) sehingga tetap jauh dari &#39;kebenaran&#39;. Oleh karena itu lebih berhargalah seorang tukang daripada seniman karena seniman menjiplak jiplakan, membuat copy dari copy.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Aristoteles juga mengambil teori mimesis Plato yakni seni menggambarkan kenyataan, tetapi dia berpendapat bahwa mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan melainkan juga menciptakan sesuatu yang haru karena &#39;kenyataan&#39; itu tergantung pula pada sikap kreatif orang dalam memandang kenyataan. Jadi sastra bukan lagi copy (jiblakan) atas copy (kenyataan) melainkan sebagai suatu ungkapan atau perwujudan mengenai &quot;universalia&quot; (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang wujudnya kacau, penyair memilih beberapa unsur lalu menyusun suatu gambaran yang dapat kita pahami, karena menampilkan kodrat manusia dan kebenaran universal yang berlaku pada segala jaman.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Levin (1973:56-60) mengungkapkan bahwa konsep &#39;mimesis&#39; itu mulai dihidupkan kembali pada zaman <i>humanisme Renaissance </i>dan <i>nasionalisme Romantik</i>. <i>Humanisme Renaissance </i>sudah berupaya mengbilangkan perdehatan prinsipial antara sastra modern dan sastra kuno dengan menggariskan paham bahwa masing-masing kesusastraan itu merupakan ciptaan unik yang memiliki pembayangan historis dalam jamannya. Dasar pembayangan historis ini telah dikembangkan pula dalam zaman <i>nasionalisme Romantik</i>, yang secara khusus meneliti dan menghidupkan kembali tradisi-tradisi asli berbagai negara dengan suatu perbandingan geografis. Kedua pandangan tersebut kemudian diwariskan kepada zaman berikutnya, yakni positivisme ilmiah.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pada zaman positivisme ilmiah, muncul tokoh sosiologi sastra terpenting: Hippolyte Taine (1766-1817). Dia adalah seorang sejarawan kritikus naturalis Perancis, yang sering dipandang sebagai peletak dasar bagi sosiologi sastra modern. Taine ingin merumuskan sebuah pendekatan sosiologi sastra yang sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang digunakan dalam ilmu alam dan pasti. Dalam bukunya <i>History of English Literature </i>(1863) dia menyebutkan bahwa sebuah karya sastra dapat dijelaskan menurut tiga faktor, yakni ras, saat (<i>momen</i>), dan lingkungan (<i>milieu</i>). Bila kita mengetahui fakta tentang ras, lingkungan dan momen, maka kita dapat memahami iklim rohani suatu kebudayaan yang melahirkan seorang pengarang beserta karyanya. Menurut dia faktor-faktor inilah yang menghasilkan struktur mental (pengarang) yang selanjutnya diwujudkan dalam sastra dan seni. Adapun ras itu apa yang diwarisi manusia dalam jiwa dan raganya. Saat (<i>momen</i>) ialah situasi sosial-politik pada suatu periode tertentu. Lingkungan meliputi keadaan alam, iklim, dan sosial. Konsep Taine mengenai milieu inilah yang kemudian menjadi mata rantai yang menghubungkan kritik sastra dengan ilmu-ilmu sosial.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pandangan Taine, terutama yang dituangkannya dalam buku Sejarah Kesusastraan Inggris, oleh pembaca kontemporer asal Swiss, Amiel, dianggap membuka cakrawala pemahaman baru yang berbeda dan cakrawala anatomis kaku (<i>strukruralisme</i>) yang berkembang waktu itu. Bagi Amiel, buku Taine ini membawa aroma baru yang segar bagi model kesusastraan Amerika di masa depan. Sambutan yang hangat terutama datang dari Flaubert (1864). Dia mencatat, bahwa Taine secara khusus telah menyerang anggapan yang berlaku pada masa itu bahwa karya sastra seolah-ola</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">h</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> merupakan meteor yang jatuh dari langit. Menurut Flaubert, sekalipun segi-segi sosial tidak diperlukan dalam pencerapan estetik, sukar bagi kita untuk mengingkari keberadaannya. Faktor lingkungan historis ini sering kali mendapat kritik dari golongan yang percaya pada &#39;misteri&#39; (ilham). Menurut Taine, hal-hal yang dianggap misteri itu sebenarnya dapat dijelaskan dari lingkungan sosial asal misteri itu. Sekalipun penjelasan Taine ini memiliki kelemahan-kelemahan tertentu, khususnya dalam penjelasannya yang sangat positivistik, namun telah menjadi pemicu perkembangan pemikiran intelektual di kemudian hari dalam merumuskan disiplin sosiologi sastra.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">
<blockquote>
<p><strong><span style="font-family: Verdana;">Download for member:</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Verdana;">[mv]<a href="http://www.ziddu.com/download/16998166/SejarahPertumbuhanSosiologiSastra.docx.html" target="_blank"><span style="text-decoration: underline;">http://www.ziddu.com/download/16998166/SejarahPertumbuhanSosiologiSastra.docx.html</span></a></span>[/mv]</p>
</blockquote>
</div>
<div>&nbsp;&nbsp;</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/kebahasaan/sejarah-pertumbuhan-sosiologi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori-Teori Sosiologi Sastra</title>
		<link>http://www.sutisna.com/kebahasaan/teori-teori-sosiologi-sastra/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/kebahasaan/teori-teori-sosiologi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Oct 2011 02:27:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Teori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Teori-Teori Sosiologi Sastra Teori Sastra Marxis &#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Pendekatan sosiologi sastra yang paling terkemuka dalam ilmu sastra adalah Marxisme. Kritikus-kritikus Marxis biasanya mendasarkan teorinya pada doktrin<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/kebahasaan/teori-teori-sosiologi-sastra/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center" style="margin-top: 12pt; text-align: center; line-height: 200%;"><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Teori-Teori Sosiologi Sastra</span></b></div>
<div style="margin-top: 12pt; line-height: 200%;"><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Teori Sastra Marxis</span></b></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendekatan sosiologi sastra yang paling terkemuka dalam ilmu sastra adalah Marxisme. Kritikus-kritikus Marxis biasanya mendasarkan teorinya pada doktrin Manifesto Komunis (1848) yang diberikan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, khusunya terhadap pernyataan bahwa perkembangan evolusi historis manusia dan institusi-institusinya ditentukan oleh perubahan mendasar dalam produksi ekonomi. Peruhanan itu mengakibatkan perom</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">b</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">akan dalam struktur kelas-kelas ekonomi, yang dalam setiap jaman selalu bersaing demi kedudukan sosial ekonomi dan status politik. Kehidupan agama, intelektual, dan kebudayaan setiap jaman -termasuk seni dan kesusastraan &#8211; merupakan &#39;ideologi-ideologi&#39; dan &#39;suprastruktur-suprastruktur&#39; yang berkaitan secara dialektikal, dan dibentuk atau merupakan akibat dari struktur dan perjuangan kelas dalam jamannya (Abrams, 1981:178).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sejarah dipandang sebagai suatu perkembangan yang terus-menerus. Daya-daya kekuatan di dalam kenyataan secara progresif selalu tumbuh untuk menuju kepada suatu masyarakat yang ideal tanpa kelas. Evolusi ini tidakberjalan dengan mulus melainkan penuh hambatan-hambatan. Hubungan ekonomi menimbulkan berbagai kelas sosial yang saling bermusuhan. Pertentangan kelas yang terjadi pada akhirnya dimenangkan oleh suatu kelas tertentu. Hubungan produksi yang </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">b</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">a</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">ru</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"> perlu melawan kelas yang berkuasa agar tercapailah suatu tahap masyarakat ideal tanpa kelas, yang dikuasai oleh kaum proletar.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagi Marx, sastra dan semua gejala kebudayaan lainnya mencerminkan pola hubungan ekonomi karena sastra terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, karya sastra hanya dapat dimengerti jika dikaitkan dengan hubungan-hubungan tersebut (Van Luxemburg, 1986:24-25). Menurut Lenin, seorang tokoh yang dipandang sebagai peletak dasar bagi kritik sastra Marxis, sastra (dan seni pada umumnya) merupakan suatu sarana penting dan strategis dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme.</span></div>
<div style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">George Lukacs: Sastra Sebagai Cermin</span></b></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; George Lukacs adalah seorang kritikus Marxis terkemuka yang berasal dari Hungaria dan menulis dalam bahasa Jerman (Damono, 1979:31). Lukacs mempergunakan istilah &quot;cermin&quot; sebagai ciri khas dalam keseluruhan karyanya. Mencerminkan menurut dia, berarti menyusun sebuah struktur mental. Sebuah novel tidak hanya mencerminkan &#39;realitas&#39; tetapi lebih dari itu memberikan kepada kita &quot;sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih dinamik&quot; yang mungkin melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena idividual secara tertutup melainkan lebih merupakan sebuah &#39;proses yang hidup&#39;. Sastra tidak mencerminkan realitas sebagai semacam fotografi, melainkan lebih sebagai suatu bentuk khusus yang mencerminkan realitas. Dengan demikian, sastra dapat mencerminkan realitas secara jujur dan objektif dan dapat juga mencerminkan kesan realitas subjektif (Selden, 1991:27).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lukacs menegaskan pandangan tentang karya realisme yang sungguh-sungguh sebagai karya yang memberikan perasaan artistik yang bersumber dari imajinasi-imajinasi yang diberikannya. Imajinasi-imajinasi itu memiliki totalitas intensif yang sesuai dengan totalitas ekstensif dunia. Penulis tidak memberikan gambaran dunia abstrak melainkan kekayaan imajinasi dan kompleksitas kehidupan untuk dihayati untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Jadi sasarannya adalah pemecahan kontradiksi melalui dialektika sejarah.</span></div>
<div style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Bertold Brecht: Efek Alienasi</span></b></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bertold Brecht adalah seorang dramawan Jerman yang terhakar jiwanya ketika membaca buku Marx sekitar tahun 1926. Drama-dramanya bersifat radikal, anarkistik, dan anti borjuis. Sebagai seorang yang anti terhadap paham-paham realisme sosialis, ia terkenal sebagai penentang aliran Aristoteles. Aristoteles menekankan universalitas dan kesatuan aksi tragik dan identifikasi penonton terhadap pahlawan-pahlawan positif untuk menghasilkan &#39;katarsis&#39; (pelepasan hehan) perasaan.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut Brecht, dramawan bendaknya menghindari alur yang dihuhungkan secara lancar dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti. Fakta-fakta ketidakadilan dan ketidakwajaran perlu dihadirkan untuk mengejutkan dan mengagetkan penonton. Penonton jangan ditidurkan dengan ilusi-ilusi palsu. Para pelaku tidak har</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">u</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">s meng</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">h</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">ilangkan personalitas dirinya untuk mendorong identifikasi penonton atas tokoh-tokoh pahlawannya. Mereka harus mampu menimbulkan efek alienasi (keterasingan). Pemain bukan berfungsi menunjukkan melainkan mengungkapkan secara spontan individualitasnya (Selden, 1991:30-32).</span></div>
<div style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Aliran Frankfurt</span></b></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Aliran Frankfurut adalah sebuah aliran filsafat sosial yang dirintis oleh Horkheimer dan Th. W. Adorno yang berusaha mengga</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">b</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">ungkan teori ekonomi sosial Marx dengan psikoanalisis Freud dalam mengkritik teori sosial kapitalis (Hartoko, 1986:29-30). Dalam bidang sastra, estetika Marxis Aliran Frankfurt mengembangkan apa yang disebut &quot;Teori Kritik&quot; (dimulai tahun 1933). Teori Kritik merupakan sebuah bentuk analisis kemasyarakatan yang juga meliputi unsur-unsur aliran Marx dan aliran Freud. Tokoh-tokoh utama dalam filsafat dan estetika adalah: Max Horkheimer, Theodor Adorno, Berhert Marcuse dan J. Habermas (Selden, 1993:32-37).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seni dan kesusastraan mendapat perhatian istimewa dalam teori sosiologi Frankfurt, karena inilah satu-satunya wilayah di mana dominasi totaliter dapat ditentang. Adorno mengkritik pandangan Lukacs bahwa sastra berbeda dari pemikiran, tidak mempunyai hubungan yang langsung dengan realitas. Keterpisahan itu, menurut Adorno, justru member</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">i</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;"> kekuatan kepada seni untuk mengkritik dan menegasi realitas, seperti yang ditunjukkan oleh seni-seni <i>Avant Garde</i>. Seni-seni populer sudah bersekongkol dengan sistem ekonomi yang membentuknya, sehingga tidak mampu mengambil jarak dengan realitas yang sudah dimanipulasi oleh sistem sosial yang ada. Mereka memandang sistem sosial sebagai sebuah totalitas yang di dalamnya semua aspek mencerminkan esensi yang sama (masyarakat satu dimensi).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.2pt;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Adorno menolak teori-teori tradisional tentang kesatuan dan pentingnya individualitas (paham ekspresionisme) atau mengenai bahasa yang penuh arti (strukturalisme) karena hanya membenarkan sistem sosial yang ada. Menurutnya, drama menghadirkan pelaku-pelaku tanpa individualitas dan klise-klise bahasa yang terpecah-pecah, diskontinuitas wacana yang absurd, penokohan yang memhosankan, dan ketiadaan alur. Semuanya itu menimbulkan efek estetik yang menjauhkan realitas yang dihadirkan dalam drama itu, dan inilah sebuah pengetahuan tentang eksistensi dunia modern sekaligus pemberontakan terhadap tipe masyarakat satu dimensi.</span></div>
<div style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"><b><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Teori-Teori Neomarxisme</span></b></div>
<div style="margin-top: 12pt; text-align: justify; line-height: 200%;"><b>&nbsp;</b></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Kaum Neomarxis merupakan pemikir sastra yang meneliti ajaran Marx (khusus pada masa mudanya), dan dengan </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">b</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">antuan sosiologi, ingin menjadikannya relevan dengan masyarakat modern. Mereka tidak mendasarkan argumennya pada Marx, Lenin, dan Engels sebagai dogma politik, ataupun menerima supremasi Partai Komunis terhadap budaya dan ilmu. Kaum Neomarxis hanya mengambil ajaran Marx sebagai sumber inspirasi, khususnya dalam hal studi kritik sastra Marxis (Fokkema &amp; Kunne-Ibsch, 1977:115). Aliran Frankfurt, oleh beberapa pengamat dipandang sebagai salah satu bentuk teori Neomarxis. Tokoh-tokoh pentingnya antara lain Fredric Jameson, Walter Benjamin, Lucien Goldman, dan Th. Adorno.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Neomarxisme lebih bersifat epistemologis daripada politis. Mereka menganut paham &quot;metode dialektik&quot;. Sekalipun lingkup diskusi mereka sangat luas, lagi pula pandangan mereka tidak secara khusus diterapkan pada Teori Sastra saja, Th. Adorno meagemukakan bahwa ada empat gagasan pokok dalam pembicaraan aliran ini (Fokkema &amp; Kunne-Ibsch, 1977:134-135).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">1) Metode dialektika dapat memberikan suatu pemahaman mengenai totalitas masyarakat&#39;. Penggunaan metode ini mencegah kekerdilan pandangan terhadap seni hanya sebagai fakta atau masalah. Metode ini merupakan suatu bagian kajian ilmiah yang mampu mempelajari konteks sosial suatu fakta estetik. Di samping mendalami objek (seni) tertentu, mereka juga harus menguji objek itu yang ditempatkan sebagai subjek dalam masyarakat. Studi mereka dapat terfokus pada konteks historis, dengan melakukan observasi terhadap fenomena-fenomena serta harapan tertentu mengenai implikasinya di masa depan. Objek kajian metode dialektika tidak terbatas, karena masyarakat yang satu merupakan totalitas dalam dialektika kata.</span></div>
<div style="margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">2) Metode dialektik berorientasi pada hubungan antara konkretisasi sejarah umum dan sejarah individual. Konteks kajiannya bukan</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">hanya sekedar masa lampau tetapi juga masa depan. Masa depan memang ter</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">b</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">uka untuk berbagai kemungkinan, namun dia ditentukan oleh intensi-intensi yang telah ditetapkan manusia, masyarakat, sejarah. Setiap bidang (ilmu, politik, sejarah) selalu mengandung aspek teleologis (tujuan, sasaran) berkenaan dengan masa depan yang masih jauh.</span></div>
<div style="margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">3) Aspek teleologikal itu tergantung kepada perbedaan antara hukum kebenaran yang tampak dan kebenaran esensial. Hanya fenomena-fenomena yang tampak secara nyatalah yang dapat dikaji secara empiris, tetapi tetap harus dipandang dalam kerangka kebenaran esensial. Jadi aspek teleologis memiliki identitas ganda terhadap suatu subjek: dapat mencapai kesadaran yang benar (yang lebih tinggi), tetapi dapat pula mencapai kesadaran yang salah (yang lebih rendah) tergantung pada konteks yang berbeda-beda.</span></div>
<div style="margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">4) Perlu diperhatikan perbedaan antara teori dan praktik, antara objek bahasa dan metabahasa, dan antara fakta-fakta hasil observasi dengan nilai-nilai yang dilekatkan pada fakta itu. Subjek harus selalu menyadari posisinya dalam masyarakat. Identitas tidak lagi terletak di antara dua konsep, melainkan tergantung pada relasi subjek dan objeknya, antara proses berpikir dan realitasnya.</span></div>
<div style="margin-left: 17.1pt; text-align: justify; text-indent: -17.1pt; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berdasarkan metode berpikir dialektis tersebut, Fredric Jameson mengungkapkan bahwa hakikat suatu karya sastra dapat diketahui dari penelitian tentang latar belakang historisnya. Kita tidak hanya sekedar ingin menangkap nilai-nilai yang sempit pada permukaan (seperti dilakukan kaum New Criticism), melainkan harus dapat menemukan hubungan orisinal antara Subjek dan Objek sesuai dengan kedudukannya (Culler, 1981:12-13). Jadi hasil kritik dialektikal itu bukan hanya sekedar suatu interpretasi sastra, melainkan juga sejarah model interpretasi dan kebutuhan akan suatu model interpretasi yang khusus.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam bukunya <i>The Political Unconscious: Narrative As a Socially SimhoUc Act </i>(1981), Jameson mengusulkan interpretasi politik terhadap sastra. Perspektif politik ini tidak merupakan metode pelengkap atau tambahan pada metode lainnya (seperti: psikoanalisis, kritik mitos, stilistika, etika, strukturalisme) melainkan suatu pandangan politik yang a</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">b</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">solut. Dasar pandangannya adalah bahwa setiap teks mengandung resonansi sosial, historis, dan polios. Dengan persepsi bahwa cerita hanyalah permukaan sebuah teks yang menguhur sejarahnya yang hakiki, maka pentinglah analisis mengenai &#39;ketaksadaran politis&#39; dalam teks-teks sastra. Dalam setiap teks tercakup beragam operasi mental sehingga pemahaman dialektikal pun sifatnya tidak mutlak. Metode dialektika menempatkan karya sastra sebagai subjek yang mengandung totalitas masyarakatnya.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Jameson mengungkapkan kekecewaannya terhadap paradigma dan ohsesi intelektual paham strukturalisme selama kurun abad kedua puluh, yang ingin memikirkan persoalan-persoalan hidup dan totalitasnya melalui sarana bahasa dalam teks sastra (Eagleton, 1983:97). Menurut dia, bahasa hanya akan menjadi semacam penjara bagi persoalan hidup dan totalitasnya karena hidup dan permasalahannya terlalu luas untuk diwadahi oleh sarana bahasa.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Menurut Jameson, sebuah karya individual selalu merupakan bagian dari struktur yang lebih besar. Dengan demikian bentuk dan struktur karya individual harus selalu dipahami dalam dimensi sejarah, yang secara dominan dilandaskan pada dasar (infrastructure) ekonomi. Sekalipun faktor-faktor yang memengaruhi pengarang menuangkan gagasannya sangat beragam, namun kekuatan-kekuatan itu mempunyai satu hasis utama, yakni ekonomi. Ekonomi dan efek-efeknya merupakan taktor utama yang melahirkan suprastruktur: budaya, ideologi, filsafat, agama, hukum, bahkan pemerintah dan negara.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Manusia selalu berada dalam situasi &#39;ketaksadaran politik. Teks-teks sastra pun mengandung ketaksadaran politik, yang menawarkan strategi bagi pengbilangan kontradiksi-kontradiksi sejarah. Pengarang individual seolah dihius oleh ketaksadaran politik ini, sehingga dia secara tidak sadar mengungkapkan modus-modus heterogenitas di luar teks. Heterogenitas sosial mengakibatkan keberagaman teks. Dengan demikian tidak ada suatu kerangka referensi yang pasti dan mutlak yang diperlukan sebagai model acuan bagi eksplikasi tekstual. Setiap teks membutuhkan kategori-kategori eksplikasi tertentu sesuai dengan kekhususannya, dan sifatnya pun hanya sekedar menggambarkan saat tertentu.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terry Eagleton juga seorang kritikus Neomarxis yang berusaha meng-hidupkan kembali kritik Marx di Inggris dan menghasilkan kritik impresif terhadap tradisi kritik Inggris melalui revolusi radikal perkembangan novel Inggris (Selden, 1991:42). Tugas utama kritik sastra, menurut dia, adalah mendefinisikan hubungan antara sastra dan ideologi, karena sastra tidak merupakan cerminan kenyataan melainkan mengandung efek ideologis yang nyata (Selden, 1991:43).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.1pt;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada bagian penutup bukunyaLiterary Theory: An Introduction (1985:194), Eagleton menyebut teori-teori sastra modem yang &#39;murni&#39; sebagai mitos airaftemik yang melarikan diri dari kondisi huruk sejarah modern. Teori-teori itu, ironisnya, justru menjadi pelarian dari realitas menuju sejumlah alternatif tanpa batasan. Mereka bukannya terlihat dengan situasi konkret manusia, tetapi melarikan diri kepada puisi itu sendiri, masyarakat organik (yang bulat dan utuh, bukannya terpecah-pecah), kebenaranabadi, imajinasi, struktur pemikiran manusia, mitos, bahasa, dan sebagainya. Bagi Eagleton, alternatif-alteraatif pelarian itu lebih merupakan penipuan. Secara ironis, Eagleton menilai teori-teori itu sebagai proyek kaum <i>Scrunity </i>(= peneliti yang cermat), yang sudah saatnya ditinggalkan karena sukar, abstrak, dan absurd (Culler, 1988:57-68). Secara umum, Eagleton merasa kecewa terhadap ideologi borjuis yang telah terbukti menelantarkan kaum miskin dan lemah ke dalam marginalitas sosial politik.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebagaimana Jameson, Eagleton juga mengusulkan kritik politik. Menurut dia, politik adalah semua cara pengaturan kehidupan bermasyarakat yang meli-hatkan hubungan kekuasaan di dalamnya. Dalam kehidupan bermasyarakat selalu terlihat ideologi tertentu. Teori kritik sastra harus mendefinisikan model ideologi tersebut. Asumsi dasamya adalah sastra secara vital terlihat dalam kehidupan konkret manusia dan bukan sekedar gambaran abstrak (1985:196).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 200%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Seorang peneliti sastra harus membongkar gagasan-gagasan kesusastraan dan menempatkan ideologi yang berperan membentuk subjektivitas pembaca, dan lebih jauh menghasilkan efek-efek politis tertentu yang harangkali tidak diharapkan (Selden, 1991:45). Dia melinat bahwa kebanyakan studi sastra memulai pendekatan secara benar, tetapi kemudian gagal dalam melihat relevansi sosial-politiknya, lebih-lebih karena tidak ada relevansinya sama sekali dengan ideologi. Kebanyakan kritik sastra justru lebih memperkuat sistem-sistem kekuasaan daripada menentangnya.</span></div>
<div>&nbsp;</div>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote>
<p><strong><span style="font-family: Verdana;">Download for member:</span></strong></p>
<p><span style="font-family: Verdana;">[mv]<a href="http://www.ziddu.com/download/16998165/Teori-TeoriSastra.docx.html" target="_blank"><span style="text-decoration: underline;">http://www.ziddu.com/download/16998165/Teori-TeoriSastra.docx.html</span></a></span>[/mv]</p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/kebahasaan/teori-teori-sosiologi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengertian Sosiologi Sastra</title>
		<link>http://www.sutisna.com/kebahasaan/pengertian-sosiologi-sastra/</link>
		<comments>http://www.sutisna.com/kebahasaan/pengertian-sosiologi-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 22:18:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebahasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengertian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutisna.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160;Pengertian Sosiologi Sastra &#160; Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang telah<br /><br /><a href="http://www.sutisna.com/kebahasaan/pengertian-sosiologi-sastra/">Continue Reading </a> &#187;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">&nbsp;<b><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.2pt;">Pengertian Sosiologi Sastra</span></b></p>
<div align="center" style="text-align: center; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.2pt;">Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra meng</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.2pt;">h</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; letter-spacing: -0.2pt;">asilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut (<b>Soemanto, 1993; Levin, 1973:56</b>). Sebagai suatu bidang teori, maka sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya.</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Istilah &quot;sosiologi sastra&quot; dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperha</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">ti</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">kan hubungan antara pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Mereka memandang bahwa karya sastra (baik aspek isi maupun bentuknya) secara mudak terkondisi oleh lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu (<b>Abrams, 1981:178</b>).</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sekalipun teori sosiologis sastra sudah diketengahkan orang sejak sebelum Masehi, dalam disiplin ilmu sastra, teori sosiologi sastra merupakan suatu bidang ilmu yang tergolong masih cukup muda (<b>Damono, 1977:3</b>) berkaitan dengan kemantapan dan kemapanan teori ini dalam mengembangkan alat-alat analisis sastra yang relatif masih lahil dibandingkan dengan teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra.</span></div>
<blockquote>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;">&nbsp;</div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;">Download:</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;">[mv]</span></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;"><a href="http://www.ziddu.com/download/16998167/PengertianSosiologiSastra.docx.html" target="_blank"><span style="font-family: Verdana;">http://www.ziddu.com/download/16998167/PengertianSosiologiSastra.docx.html</span></a></div>
<div style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span style="font-family: Verdana;">[/mv]</span></div>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sutisna.com/kebahasaan/pengertian-sosiologi-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

